Festival Budaya 2025 Jadi Momentum Kutim Perkuat Identitas Daerah dan Regenerasi Pelaku Seni

KLIK BORNEO – SANGATTA. Festival Pesona Budaya Kutai Timur (Kutim) 2025 kembali menjadi pusat perhatian masyarakat berkat penyajian berbagai seni tradisi dari pesisir hingga pedalaman. Gelaran tersebut tidak hanya menampilkan kekayaan budaya, tetapi juga memperlihatkan semangat regenerasi pelaku seni di daerah.

Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Padliyansyah, mengatakan bahwa keterlibatan masyarakat dan pelaku seni pada tahun ini menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Menurutnya, festival bukan sekadar hiburan, tetapi ruang penting untuk memperkuat keberlanjutan tradisi.

“Kita melihat antusiasme luar biasa, baik dari komunitas seni maupun pengunjung. Ini menandakan bahwa masyarakat Kutim masih memiliki kepedulian kuat terhadap budaya daerahnya,” kata Padliyansyah.

Perhelatan tersebut menampilkan sejumlah atraksi unggulan, seperti Tari Hudoq Medang Sengeatteak yang melambangkan kekuatan spiritual dan kedekatan masyarakat pedalaman dengan alam.

Selain itu, pertunjukan Tarsul oleh dua bakat muda Kutim yaitu Zahud Fauzi Abror dan Nur Alya Anugerah Putri, turut mewarnai panggung penutupan dengan energi baru dari generasi penerus.

Kehadiran sekitar 40 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) turut menambah dinamika acara. Partisipasi mereka tidak hanya memberikan nilai tambah bagi festival, tetapi juga menggerakkan perekonomian lokal.

Sementara itu, Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menegaskan bahwa pemerintah daerah melihat festival ini sebagai pijakan penting untuk menata pembinaan seni secara lebih profesional.

Ia menyebut bahwa upaya menjaga tradisi harus diiringi penguatan kualitas pelaku seni.

“Kami ingin pembinaan seni memiliki arah yang lebih jelas. Karena itu, tahun depan kami mulai memfokuskan pelatihan untuk para pelatih kesenian supaya standar kompetensinya lebih terukur dan mampu menjawab kebutuhan zaman,” ujar Mulyono.

Menurutnya, peningkatan kapasitas instruktur menjadi salah satu strategi utama agar seni tradisional Kutim terus hidup dan berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya.

Dengan pelatihan yang lebih terarah, ia optimistis bahwa generasi muda akan memiliki ruang belajar yang lebih baik.

Festival tahun ini juga memperlihatkan keseimbangan antara pelestarian tradisi dan kebutuhan masyarakat akan ruang hiburan yang berkualitas.

Pemerintah berharap momentum ini dapat terus memperkuat identitas budaya Kutim sekaligus menghidupkan kembali permainan dan kesenian rakyat yang mulai jarang ditampilkan.(ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT