Menang atau Merasa Menang? Refleksi “Hari Kemenangan” yang Kian Bising

KLIK BORNEO. Lebaran tiba, dan seperti biasa, drama “hilal” mulai naik panggung. Ada yang sudah menyiapkan rendang, opor, soto, rawon dan lain lain sejak Kamis, ada yang masih setia menunggu pengumuman sidang isbat sambil memegang kalender.

Perbedaan 1 Syawal ini sebenarnya sudah jadi “bumbu” rutin, tapi entah kenapa, bukannya membuat kita makin dewasa menghargai perbedaan, kita malah sering terjebak dalam debat kusir yang lebih melelahkan daripada menahan lapar di siang hari.

Ironisnya, saat keputusan sudah bulat, “pertempuran” yang sebenarnya justru berpindah ke jalan raya. Takbir vs Knalpot, Duel Suara di Malam Syahdu Malam takbiran yang seharusnya menjadi momen sakral untuk mengagungkan nama Allah Swt., kini sering kali berubah menjadi festival kemacetan nasional.

Di masjid, suara muazin yang melantunkan takbir dengan penuh penghayatan harus “adu mekanik” dengan derum knalpot brong dari motor-motor yang dikendarai pemuda (dan bapak-bapak yang menolak tua).Rasanya aneh melihat esensi kemenangan dirayakan dengan cara “menyiksa” telinga sesama.

Kita sibuk berkeliling kota, terjebak macet di depan toko baju yang masih diskon last minute, atau berdesakan di pasar demi sekilo daging, sampai lupa bahwa inti dari malam itu adalah dzikrullah.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an: “…dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Ayat ini jelas: tujuannya adalah mengagungkan Allah dan bersyukur, bukan mengagungkan suara knalpot atau pamer baju baru di tengah polusi jalanan. Menang yang Mana? Sebuah Tanya untuk Hati Istilah “Hari Kemenangan” sering kita sematkan pada Idulfitri.

Namun, mari kita jujur pada diri sendiri sambil menyeruput es teh di pojok warung: kemenangan apa yang sedang kita rayakan?Ada fenomena unik sekaligus menggelitik.

Banyak di antara kita yang ikut konvoi paling depan, takbirnya paling keras, dan baju koko-nya paling berkilau, tapi… puasanya “bolong-bolong” tanpa uzur syar’i.

Tarawihnya hanya di malam pertama (itu pun karena ingin melihat siapa saja tetangga yang datang), shalat malamnya nihil, dan tadarusnya hanya sampai daftar isi.

Bukankah malu mengaku “menang” jika kita bahkan tidak pernah ikut “bertempur” melawan hawa nafsu? Kemenangan dalam Islam bukan soal berhasil melewati tanggal 30 Ramadhan, melainkan soal transformasi diri.

Rasulullah saw. bersabda:”Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah). Jangan sampai kita masuk dalam golongan “pemenang palsu” ini. Menang gaya, kalah pahala. Menang di jalan raya, tapi kalah di hadapan sajadah.

Merayakan kemenangan tentu boleh, bahkan dianjurkan. Namun, alangkah indahnya jika perayaan itu dilakukan dengan penuh wibawa. Kemenangan sejati tidak butuh kebisingan yang mengganggu orang sakit yang sedang istirahat atau bayi yang baru terlelap.

Kemenangan sejati ada pada getaran hati saat mengucap “Allahu Akbar” di dalam kesunyian malam, menyadari betapa kecilnya kita di hadapan Sang Pencipta. Lebaran tahun ini, mari kita coba sedikit berbeda.

Kalaupun harus keluar rumah, pastikan itu untuk silaturahmi yang bermakna, bukan sekadar menambah angka kemacetan tanpa tujuan. Biarkan pengeras suara masjid mendominasi dengan syiar yang menyejukkan, bukan malah tenggelam oleh suara bising urusan duniawi yang tidak ada habisnya.

Malu rasanya jika kita mengaku hamba-Nya yang paling bahagia di hari fitri, sementara di bulan sebelumnya kita adalah hamba yang paling malas berinteraksi dengan-Nya. Mari jadikan Lebaran sebagai pengingat, bahwa kemenangan hanya milik mereka yang sungguh-sungguh berjuang.

Selamat merayakan kemenangan bagi yang benar-benar berjuang. Dan bagi yang masih suka “balap liar” di malam takbir, ingat: malaikat tidak mencatat kecepatan motormu, tapi mencatat keikhlasan hatimu.Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Hari Raya Idulfitri.(*/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT