Agus Tantomo Ungkapkan beratnya mendaki kursi DPR RI. Salah satunya masih rendahnya pemahaman warga terhadap keuntungan menempatkan orang Berau di DPR RI
BERAU. Belum ada orang Berau yang pernah sampai jadi penghuni gedung kura-kura. Sebutan untuk gedung DPR RI. Sampai saat ini tak ada orang Berau yang duduk di parlemen RI. Tak satupun ada orang asli dari Bumi Batiwakkal yang mewakili Kaltim duduk sebagai wakil di DPR RI. Hingga timbul pertanyaan kenapa? Tahun ini, atau tepatnya 14 Februari, Pemilu untuk memilih wakil rakyat, di DPR,DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota dan DPD, serta pemilihan presiden dan wakil presiden.
Hingar bingar Pemilu yang bersamaan dengan Pilpres umumnya didominasi 2 level, Pilpres dan DPRD kabupaten/kota. Apalagi Pilpres kali ini terlihat lebih seru dengan berbagai dekorasi pesta demokrasinya, mulai dari slogan,tema masing-masing pasangan,intrik,hingga trend-trend di masyarakat yang nuansanya sangat kental.
Pilpres tentu saja sexy. Tetapi kemudian ada level pemilihan DPRD Kabupaten/kota yang juga tidak kalah sexynya. Mengingat ikatan emosional antara Caleg dan masyarakat yang tentu saja lebih kuat, dibandingkan dengan pemilihan DPRD Provinsi dan DPR RI. Karena bisa saja Caleg tersebut adalah keluarga,teman atau tetangga sendiri.
Salah satu Caleg DPR RI asal Berau Agus Tantomo, mengungkapkan, sulitnya mendaki kursi untuk DPR RI. Salah satunya faktor masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap atensi untuk memilih orang Berau.
Hingga hari terakhir kampanye 10 Februari 2024, Agus Tantomo menutup kampanye ke 210 nya, ia mengungkapkan, rendahanya pemahaman ini yang menjadi biang kerok tidak adanya wakil Berau duduk di parlemen pusat.
Hasil “riset” selama kampanye di Berau,Kutai Timur hingga Bontang, Agus mendapati bahwa rata-rata warga pemilih untuk Caleg DPR pusat apatis dan acuh terhadap siapa saja yang dipilihnya. Dengan alasan tidak terlalu penting.
Bahkan rata-rata pemilih tidak ingat lagi siapa nama Caleg DPR RI yang dicoblosnya. “ini yang kacau,” ujarnya. Kesalahan itu terus terulang setiap Pemilu. Rata-rata pemilih daerah seperti halnya di Berau mencoblos anggota DPRD Provinsi dan Pusat yang separtai dengan Caleg DPRD kabupaten pilihannya.
“Jadi misalnya milih Caleg Berau dari partai A, nanti diarahkan pilih Caleg Provinsi dan pusat dari partai yang sama dengan Caleg itu, rata-rata seperti itu, nah justru itu yang menyebabkan Caleg dari Berau yang pernah ada tidak sampai duduk di pusat,” jelasnya.
Sehingga, Caleg-caleg Berau yang Partainya tidak mengirimkan perwakilannya berkompetisi di pusat diharapkan agar lebih perhatian terhadap putra atau putri Berau yang berkompetisi di DPR RI.
Tentu tidak dengan mengkampanyekan Caleg di luar partainya secara langsung, karena jelas “melanggar etik” partai. “Pakai slogan yang saya pakai misalnya orang Berau pilih orang Berau saja sudah mewakili yang secara tidak langsung membantu orang Berau duduk di pusat,” sarannya.
Agus Tantomo juga menerangkan keuntungan adanya orang Berau yang duduk di parlemen pusat. “Bisa mengarahkan atau membawa anggaran besar dari pusat ke Berau, yang nikmati orang Berau, karena logikanya jelas kalau orang Berau pasti aspirasinya untuk daerahnya, kalau orang luar Berau ya bawa aspirasinya dan anggarannya ke daerah asalnya, sudah pasti itu,” bebernya.
Karena Pemilu berbarengan Pileg dan Pilpres, maka level “sengit” ada di Pilpres dan DPRD Kabupaten. Kemudian level provinsi dan pusat jadi seperti tersisih. Tidak banyak yang terlalu peduli karena berpikir tugasnya tidak di Berau. Mencoba mendobrak mindset itu, setidaknya ada putra Berau yang pada Pemilu kali ini kembali berkompetisi di level pusat.
Pertama ada mantan anggota DPRD Provinsi,wakil bupati dan bupati Berau Agus Tantomo. Kemudian ada nama Rusianto atau akrab disapa Kiang, mantan anggota DPRD Berau dan DPRD Provinsi Kaltim. kemudian ada anak muda lainnya yang ikut berkompetisi yakni Muhammad Hafiduddin Ramdhani bin Muharram. Melihat nama paling belakang itu tentu warga Berau sudah tahu. Pemuda ini anak mendiang mantan bupati Berau Muharram. Bahkan kini ibundanya yakni Sri Juniarsih Mas juga menjabat sebagai Bupati Berau. Garis tangan ketiga Putra Berau ini belum terlihat jelas. Apakah akan duduk dan menjadi perpanjangan lidah orang Berau di pusat. Setidaknya ada upaya mendudukan orang Bumi Batiwakkal disana. Agar suara Berau setidaknya terdengar langsung di parlemen pusat. Agus tantomo, Kiang atau Muhammad Hafiduddin Ramdhani kah yang akan mewakili orang Berau.semoga saja ada. (//)