KLIK BORNEO – BERAU. Produk kakao Berau resmi ditetapkan menjadi komoditas unggulan daerah. Hal ini tentu membuka peluang besar bagi pengembangannya lebih lanjut. Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Berau, Lita Handiri menegaskan penetapan kakao menjadi komoditas unggulan daerah pasca diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Penetapan ini dilakukan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Berau.
Disampaikannya, sebenarnya terdapat tiga komoditas yang dipertimbangkan menjadi komoditas unggulan. Tiga komoditas itu yakni kakao, kelapa dalam, dan jagung.
Namun, setelah melewati evaluasi yang mendalam, kakao dinilai sebagai komoditas yang paling siap untuk dikembangkan di Bumi Batiwakkal. Pasalnya, sudah dikenal luas.
“Sebenarnya banyak rekomendasi dari BPK terkait pengembangan kakao dan semua sudah kita tindaklanjuti,” ungkapnya.
“Hanya saja masih ada satu rekomendasi yang belum dilaksanakan, yakni sosialisasi hasil penelitian dan pengembangan kakao kepada para penyuluh perkebunan di Berau,” sambungnya.
Diakuinya, sebelumnya Disbun Berau telah mengundang 20 penyuluh pertanian dari 20 kampung yang menjadi sentra pengembangan kakao di Berau untuk mengikuti kegiatan sosialisasi mengenai kebijakan dan strategi pengembangan kakao.
Sosialisasi itu dinilai sangat penting agar semua pihak memiliki pemahaman yang sama mengenai arah kebijakan dan strategi yang akan diterapkan untuk pengembangan komoditas kakao di Kabupaten Berau.
“Kami meminta kepada penyuluh untuk melakukan pendataan ulang mengenai lahan yang digunakan untuk budidaya kakao,” jelasnya.
Ditambahkannya, sesuai data komoditas kakao sudah dikembangkan sejak lama. Dari total 1.000 hektare (Ha) yang ditargetkan, saat ini baru setengahnya atau sekitar 460 Ha yang telah eksisting.
“Sementara sisanya 600 Ha masih dianggap sebagai lahan potensial yang perlu dikembangkan lebih lanjut,” terangnya.
Karena itu, Lita menginstruksikan kepada para penyuluh untuk melakukan pendataan lebih lanjut, khususnya terkait petani yang mengelola kebun kakao di wilayah binaannya masing-masing.
“Karena keterbatasan waktu saat itu jadi kami baru bisa memetakan sekitar 460 Ha lahan eksisting kakao di Berau,” bebernya.
Menurutnya, kampung-kampung yang sudah masuk sebagai sentra pengembangan adalah Kampung Merasa dan Lesan Dayak. Namun, kampung-kampung lain seperti Long Sului dan tiga kampung lainnya juga dilaporkan mulai mengembangkan kakao, menggunakan Alokasi Dana Kampung (ADK).
“Tahun ini, mereka mulai mengadakan bibit kakao sendiri, dan ini merupakan langkah yang positif. Kami akan menindaklanjuti informasi ini tahun depan dengan melakukan pembinaan lebih lanjut,” tandasnya. (Elton)