Ketua PWI Kaltim, Abdurahman Amin menegaskan, publik atau masyarakat adalah atasan dari seorang jurnalis.
BERAU. Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Timur, Abdurahman Amin menegaskan, bahwa masih ada sikap sungkan karena memandang imperior narasumber yang merupakan seorang pejabat di kalangan wartawan saat ini. Hal itu tentu mempengaruhi nilai satu berita yang tulis.
Padahal, menurut Rahman, output satu berita adalah bagaimana bisa menyampaikan aspirasi publik, atau adanya sebuah perubahan kearah positif bagi masyarakat dari nilai berita tersebut. “Jadi atasan wartawan itu adalah publik, masyarakat. Bukan narasumber, bukan pejabat. Bahkan bisa saja bukan pimpinan perusahaan tempat dia bekerja, tetapi sekali lagi adalah masyarakat,” tegasnya.
Hal itu disampaikannya dalam acara Uji Kompetensi Wartawan (UKW) kalimantan Timur ke 34 di Kabupaten Berau. Sebagai seorang pewarta, menjadi corong masyarakat untuk menyampaikan aspirasi adalah mutlak.”Jadi wartawan itu adalah profesi yang dinamis, yang setara dengan narasumber, baik eksekutif maupun legislatif,” lanjutnya.
Program-program pengembangan SDM wartawan melalui UKW akan terus dilaksanakan oleh PWI. Bahkan dengan meningkatkan materi kualifikasi dan materi dalam ujian. Hal itu disebutnya sebagai bagian dari upaya mencetak wartawan yang profesional.
PWI Berau selaku tuan rumah dengan semua kesiapannya ditunjuk untuk melaksanakan UKW dengan jumlah peserta sebanyak 25 orang yang mendaftar. Namun ada 2 orang yang tidak hadir. Selain itu, dari 23 orang yang mengikuti ujian, dinyatakan lulus 100 persen atau dinyatakan berkompeten.
Jumlah tersebut terbagi menjadi 5 kelas dengan rincian, 1 kelas utama diikuti 3 orang yang awalnya 4 orang tidak hadir 1 orang. Kemudian 2 kelas Madya, dan 2 kelas muda.
“Untuk teman-teman yang sudah dinyatakan berkompeten bisa sedikit membusungkan dada, dalam artian anda sudah berkompeten sebagai seorang wartawan, tetapi bukan untuk disombongkan,” ujarnya. Sebab wartawan profesional tersebut harus ditunjukan dalam perilaku sehari-hari dalam bekerja. Bagaimana wartawan yang profesional bekerja sesuai kode etik jurnalis serta beretika.
Abdurahman Amin yang juga turut serta ambil bagian sebagai penguji untuk kategori muda dalam UKW ke 34 ini, menegaskan, bahwa ujian sebenarnya sebagai penguji saat ini bukan hanya kompetensi penguji tetapi juga stabilitas psikologi.
“Karena akan beda misalnya saya sebagai penguji bukan ketua PWI dengan saya sebagai penguji sebagai ketua PWI. Sebagai bagian dari PWI tentu ada rasa persaudaraan sesama anggota PWI, namun disitulah sebenarnya ujian bagi seorang penguji,” bebernya.
Namun untuk UKW ke 34 ini, ia menjelaskan, bahwa semua peserta memang terbukti adalah wartawan yang sehari-harinya bekerja sebagai wartawan. Bukan mengaku sebagai wartawan. Sebab UKW menurutnya adalah bagian pengulangan dari materi yang dikerjakan oleh wartawan sehari-hari dari tingkatan Muda,Madya dan Utama.(//)