KLIK BORNEO – BERAU. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berasal dari sektor pariwisata masih tergolong minim. Pasalnya, dari 14 destinasi atau objek wisata yang ditargetkan, baru 4 yang berkotribusi untuk PAD Berau.
Meskipun bergerak lambat, Disbudpar Berau memastikan terus berupaya memaksimalkan PAD dari objek wisata yang ada. Tahun ini, Kios Souvenir dan Kuliner di Tanjung Batu menjadi sasaran utama.
“Mungkin besok kita sudah sosialisasi tentang Perda. Setelah itu insyaallah bulan depan kita mulai melaksanakan penarikan,” ungkap Kepala Bidang Bina Usaha Jasa Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Nurjatiah kepada Klikborneo.com, Senin (26/1/2026).
Pasca Tanjung Batu, lanjut Nurjatiah, objek wisata Air Terjun Nyaliman di Biduk-Biduk juga akan dilirik. Namun, kesiapan sarana dan prasarana serta SDM pengelola akan disiapkan terlebih dahulu, termasuk untuk destinasi wisata lainnya.
Lebih lanjut diakuinya, PAD yang ditarik dari semua objek wisata itu dipertimbangkan berdasarkan jumlah kunjungan terbanyak. Namun, hal itu tidak berarti melupakan destinasi wisata yang lain.
“Sehingga dari 2024 sampai 2026, baru empat. Harusnya tahun kemarin itu kita sudah memasukkan Kakaban. Tapi Kakaban masih permasalahan tentang kewenangan,” jelasnya.
Terkait Kakaban sendiri, menurut Nurjatiah menjadi kewenangan provinsi. Namun, pihaknya berharap agar sebelum Pemprov Kaltim mengaturnya dalam Perda, Pemkab Berau ikut menerima PAD dari destinasi wisata tersebut.
“Tapi ini komunikasinya masih panjang. Kami juga tetap mematuhi ketentuan bahwa itu kewenangan provinsi kita tetap menghormati itu,” bebernya.
Untuk diketahui, empat destinasi wisata yang dipastikan telah berkontribusi bagi PAD Berau yakni Keraton Sambaliung, Museum Batiwakkal, Air Panas Pemapak Bapinang, dan Labuan Cermin. (*/)
Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi