KLIK BORNEO – BERAU. Aktivitas tambang PT KDC di wilayah Prapatan 2 mulai dikeluhkan warga yang berdiam di lokasi Perumahan Griya Salam. Pasalnya, debu tambang yang dihasilkannya, diduga turut memicu munculnya batuk hingga penyakit bronkitis yang dialami warga sekitar.
Septian Dwicahyo, seorang warga Griya Salam, kepada wartawan Klikborneo.com, Minggu (15/9/2024), menuturkan memiliki seorang balita yang masih berusia 4 bulan 2 minggu. Dua Minggu belakangan, anaknya sering terpapar batuk yang sangat intens.
Menurutnya, batuk itu bukan batuk yang biasa. Pasalnya, batuk intens yang dialami sang anak belum pernah terjadi sebelumnya. Karena itu, selain cuaca panas, debu tambang batu bara PT KDC juga diduga menjadi salah satu pemicu munculnya batuk tersebut.
“Kasihan bayi saya, sudah mulai batuk-batuk, bersin-bersin. Saya belum mampu untuk beli AC. Harus buka jendela biar sirkulasi udaranya masuk. Tapi bukan udara bersih yang masuk, malah debu batubara,” ungkapnya.
Diakuinya, sebulan lalu anaknya memang sempat terjangkit radang dan batuk pilek yang ditularkan oleh ibunya. Namun, setelah diperiksa dan diberi obat antibiotik dan obat penurun panas oleh dokter, kondisi sang bayi kembali membaik.
“Sebulan berjalan memang sempat batuk tapi itu hanya sekali karena keselek sama liurnya. Tapi masuk musim kemarau di akhir Agustus sampai sekarang, radangnya kumat. Kemudian batuknya lebih intens. Kurang lebih dua Minggu itu intens,” bebernya.
Melihat kondisi anaknya yang terpapar batuk, Septian lalu menerangkan dirinya menghubungi PT KDC, khususnya yang bertanggung jawab dan ditugaskan untuk menangani permasalahan kesehatan di wilayah sekitar operasional tambang perusahaan.

“Mereka (KDC) datang hari Jumat. Ada 6 orang yang datang. Setelah periksa anak saya diberi resep. Resepnya ditebus di Tirta dan anak saya diberi obat Paracetamol, obat batuk, dan pilek,” imbuhnya.
Meskipun sudah diberi obat oleh pihak perusahaan, Septian bersama istri tak berani memberikan obat itu kepada sang anak. Pasalnya, pasangan suami istri ini khawatir apabila terjadi masalah lain yang muncul setelah anaknya meminum obat itu.
“Anak saya masih kecil. Saya juga tidak tahu apakah dokter KDC itu kompeten. Apalagi dia tidak perkenalkan diri. Saya nggak berani beri minum karena mungkin dokter itu bukan spesialis anak. Jadi, saya lihat dulu ke depan kalau tidak ada perubahan, saya akan cek langsung ke Tirta,” paparnya.
Septian berharap masalah kesehatan yang dialami anaknya tersebut harus bisa diatasi dengan solusi yang baik dan tepat sasar dari perusahaan. Pasalnya, pemberian obat saja tidak cukup apabila debu tambang masih terus masuk ke dalam rumah warga.
“Debunya sampai hari ini masih parah. Karena aktivitas operasionalnya masih jalan. Jadi harapannya sih aktivitasnya distop dulu. Karena walaupun katanya disiram, akan sia-sia karena matahari ini panas sekali,” bebernya.
Terpisah seorang warga lain yang tidak ingin disebutkan namanya menjelaskan dirinya saat ini terpapar penyakit bronkitis. Menurutnya, penyakit itu baru dialaminya ketika tinggal di Griya Salam atau di sekitar wilayah operasional tambang PT KDC tersebut.
“Hampir setiap tahun saya MCU. Seumur – umur tidak pernah mendapat temuan aneh dari hasil rontgen/ gejala penyakit di paru-paru,” paparnya.
Dugaan itu menurutnya berdasar, mengingat rumahnya di wilayah permukiman itu sangat dekat dengan operasional tambang. Itu berarti debu tambang yang bertebaran dan juga masuk ke dalam rumahnya otomatis selalu dihirupnya setiap hari.
“Sehingga saya baru menyadari kenapa dari hasil rontgen terbaru ini paru-paru saya didapat temuan bronkitis yang kemungkinan besar ada korelasi paparan debu di area rumah saya yang mengakibatkan efek yang saya alami saat ini,” jelasnya.
Sebelumnya, masalah debu tambang juga dialami warga Prapatan 2. Menanggapi hal itu, Eksternal PT KDC, Hamzah menjelaskan pihaknya sudah melakukan evaluasi terkait masalah tersebut. Berikutnya, masalah debu yang sedang dihadapi warga sekitar akan coba diatasi.
“Sebagian alat sudah distop dan penyiraman ditingkatkan. Ada 4 unit WT yang melakukan penyiraman. Penyiraman dilakukan setiap hari, siang dan malam hari,” ujarnya, Kamis (12/9/2024).
Selain penyiraman, tambah Hamzah, masalah itu juga akan diatasi dengan upaya relokasi. Pihak perusahaan juga sudah menyiapkan lahan di Jalan Ring Road Simpang 4 menuju bandara bagi warga yang akan direlokasi.
“Sebagian rumah sudah kita bebaskan dan ada juga yang direlokasi. Saat ini lagi disiapkan pematangan lahan untuk relokasinya,” pungkasnya. (Elton)