KLIK BORNEO – BERAU. Pembangunan Rumah Layak Huni (RLH) atau Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Kabupaten Berau pada APBD Murni 2025 dipastikan lebih sedikit dari tahun 2024 lalu. Jumlahnya hanya mencapai 46 unit.
Yulius LW, Pejabat Fungsional Pelaksana Pranata Izin Tinggal Disperkim Berau menjelaskan pihaknya belum dapat memastikan alasan di balik berkurangnya jumlah unit RLH yang dibangun pada tahun ini. Namun, dipastikan bahwa berkurangnya RLH tersebut tidak berkaitan dengan efisiensi anggaran.
“Belum ada pemangkasan anggaran. Hanya jumlah unit sepertinya dikurangi. Nah, soal itu belum jelas apa yang menyebabkan berkurangnya jumlah unit,” ungkapnya, Senin (5/5/2025).
Yulius berharap tak ada pemangkasan anggaran. Mengingat, masih ada banyak warga Berau yang mengharapkan bantuan tersebut agar rumahnya dapat layak ditempati.
“Itu harapan kami. Karena ada beberapa kampung dan kelurahan yang mengajukan BSPS, terlebih saat Musrenbang waktu lalu. Setiap kampung ada pengajuan,” jelasnya.
Malah kalau perlu anggaran ditambah setiap unit. Karena harga material di setiap daerah tidak sama harganya,” sambungnya lagi.
Terkait pembangunan fisik RLH khususnya, diakui, Yulius belum berjalan hingga saat ini. Pasalnya, proses pembangunannya masih dalam tahap verifikasi.
“Setelah verifikasi akan diajukan ke bupati untuk ditetapkan sebagai penerima BSPS,” bebernya.
Sebelumnya, Yulius LW menyebut pembangunan 46 unit RLH itu akan menyasar di tiga kecamatan, antara lain Kecamatan Tanjung Redeb, Tabalar, dan Talisayan. Adapun total APBD Murni 2025 yang digelontorkan mencapai Rp 1.472.000.000.
Dari jumlah 46 unit RLH yang dibangun itu, Tanjung Redeb mendapat porsi terbanyak dengan total RLH yang dibangun sebanyak 30 unit. Setiap kelurahan, masing-masing mendapatkan 5 unit RLH.
“Lalu Kecamatan Tabalar di Kampung Tabalar Muara 7 unit dan Kecamatan Talisayan di Kampung Bumi Jaya 9 unit,” ungkapnya kepada Klikborneo.com, Selasa (04/03/2025) lalu.
Secara rinci, diakuinya, anggaran pembangunan untuk setiap unit RLH yang direhab tahun ini mencapai Rp 32.000.000. Anggaran itu sudah termasuk untuk rehab MCK.
“Dari jumlah Rp 32 juta itu, Rp 28 jutanya untuk material dan Rp 4 juta untuk ongkos kerja atau tukang,” tandasnya. (Elton)