KLIK BORNEO – BERAU. Pasca meraih juara 1 lomba perpustakaan nasional, SMAN 4 Berau dikritik novelis Indonesia, Tere Liye. Pasalnya, sekolah ini dinilai mencantumkan ebook Tere Liye di websitenya tanpa izin sang penulis, alias maling.
Kejadian itu, menurut Tere Liye melalui akun Instagram @tereliyewriter telah melanggar UU Hak Cipta, UU ITE, dan pelanggaran lainnya. Walaupun pihak sekolah melalui akun IG-nya juga sudah membuat klarifikasi, hal itu menurut Tere Liye hanya membuat mual.
“Mau kalian jungkir balik, apapun argumen kalian, file PDF ini ada di website sekolah kalian. Bahkan saat kalian merasa tidak membeli, ebook2 ini hibah dll. Bulshit! File2 ini ada di website sekolah kalian. Yg bisa diakses siapapun,” ungkap Tere Liye melalui akun Instagram @tereliyewriter.
“Dan lucunya bukan main, kalian bergegas menghapus file PDF Tere Liye, tapi coba lihat pagi ini, ebook penulis2 lain masih di sana loh. Atau kalian menunggu penulis2 lain komplain baru akan dihapus? Coba buka website sekolah kalian!” tegasnya.
Menanggapi kejadian itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Berau, Yudha Budisantoso angkat bicara dan meminta maaf kepada Tere Liye. Baginya, hal itu terjadi semata-mata karena kekurangpemahaman pihaknya.
“Tidak ada unsur kesengajaan, niat, dan rencana untuk berbuat curang, melanggar hukum, bahkan mencuri, mencari keuntungan atau apapun itu yang ditujukan kepada kami,” ujarnya kepada wartawan Klikborneo, Selasa (24/9/2024).
Sebagai kesungguhan atas permohonan maaf itu, lanjut Yudha, pihaknya menerima tuduhan, hujatan, sindiran atau apapun itu yang disampaikan oleh Tere Liye. Terkait ebook tersebut, sesuai informasi yang diperolehnya berasal dari hibah pihak lain.
“Namun sebagai penerima hibah kami juga tidak menyangka sedikitpun ada ebook yang dikatakan bajakan. Ini juga yang menjadi kekurangan kami,” bebernya.
“Memang karena euforia digital, semua serba digital termasuk buku, tetapi hal itu tidak terbayangkan ada yang bajakan. Jadi, sama sekali di luar pengetahuan kami yang masih minim,” tambahnya.
Ke depan, pihaknya akan berupaya untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan kehati-hatian agar masalah seperti itu tidak terulang kembali. Tere Liye pun diminta untuk bisa memahami dan memaklumi kekurangan tersebut.
“Kami selama ini sangat bangga mempunyai koleksi novel-novel karya Mas Tere. Bahkan beberapa kali kami jadikan lomba resensi buku,” paparnya.
Lebih dari itu, diharapkannya, kejadian itu jangan dianggap Tere Liye sebagai niat jahat pihaknya untuk mencuri sebuah karya intelektual seseorang. Kejadian itu semata-mata karena kekurangan pihaknya.
“Kita semua mempunyai tugas dan peran mencerdaskan kehidupan bangsa melalui membaca dengan peran kita masing-masing. Mari kita saling bekerja sama utk tugas mulia ini,” imbuhnya.
Ditambahkannya, jika Tere Liye berkenan, pihaknya akan mengundang Tere Liye ke Berau untuk membahas permasalahan tersebut. Dispusip Berau siap memfasilitasi pertemuan itu.
“Saya berharap Tere Liye juga memahami keterbatasan kami dan kami pun akan meningkatkan pemahaman kami tentang ebook ini,” tandasnya. (Elton)