KLIK BORNEO – SANGATTA. Produksi hortikultura di Kutai Timur kini memasuki fase pembenahan besar setelah pemerintah daerah menilai pasokan lokal belum cukup kuat untuk menopang kebutuhan harian masyarakat. Selama ini, sejumlah komoditas strategis masih sangat bergantung pada daerah lain sehingga harga mudah berubah mengikuti kondisi distribusi.
Salah satu tantangan terbesar muncul pada cabai dan bawang yang menjadi indikator sensitif bagi pasar. Kedua komoditas ini kerap menimbulkan gejolak harga karena jumlah panen dari petani setempat belum mampu mengisi kebutuhan yang terus meningkat.
Pada situasi ini, Kepala Bagian Perekonomian Setkab Kutim, Vita Nurhasanah, menegaskan bahwa kapasitas produksi daerah memang belum sesuai standar ideal.
“Secara kuantitas kita masih jauh di bawah kebutuhan, sehingga Kutim belum bisa mandiri untuk dua komoditas tersebut,” ujar Vita saat memaparkan kondisi teranyar sektor pangan lokal.
Ketergantungan pada pasokan luar masih menjadi keharusan, terutama untuk menjaga ketersediaan barang di pasar selama masa peralihan menuju produksi yang lebih stabil. Tanpa suplai dari luar, rantai distribusi mudah terganggu dan harga menjadi tidak terkendali.
Untuk mempercepat peningkatan produksi, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) mulai menjalankan sejumlah program teknis.
Pendampingan kepada petani, perluasan lahan, serta penyaluran bibit unggul menjadi prioritas utama agar komoditas cabai dan bawang bisa dikembangkan lebih optimal.
Program dukungan bibit kini diarahkan bukan hanya untuk memperluas area tanam tetapi juga untuk menguji varietas yang paling adaptif terhadap iklim Kutai Timur. Pemerintah berharap langkah ini menciptakan peningkatan produksi yang konsisten dari tahun ke tahun.
Upaya yang sama diberlakukan terhadap bawang merah, mengingat komoditas tersebut memiliki prospek ekonomi yang tinggi apabila dapat diproduksi dalam skala memadai. Pemerintah juga melibatkan kelompok tani agar proses pengembangan tidak berhenti hanya di musim tertentu.
Vita menjelaskan bahwa rangkaian program yang dijalankan bukan hanya menargetkan peningkatan jumlah panen, melainkan juga mengurangi jarak ketergantungan Kutim terhadap daerah pemasok.
“Tujuan akhirnya adalah memperbesar peran petani lokal sebagai penyedia kebutuhan masyarakat, meskipun prosesnya tidak bisa instan,” ungkapnya.
Dalam jangka panjang, pemerintah meyakini bahwa jika produksi lokal mampu tumbuh stabil, pola harga di pasar akan jauh lebih mudah dikontrol. Dukungan lintas sektor juga terus dikuatkan agar proses menuju kemandirian pangan berjalan sesuai arah yang direncanakan.
Melalui kolaborasi petani, instansi teknis, dan pemerintah daerah, Kutim menargetkan komoditas hortikultura menjadi salah satu sektor yang mampu berdiri sendiri tanpa terlalu mengandalkan suplai dari luar wilayah.(ADV)