KLIK BORNEO – BERAU. Bertransisi dari tambang, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan pembangunan daerah.
Namun, alih-alih didukung dengan anggaran yang memadai, anggaran yang tersedia tahun ini bahkan mengalami penurunan atau anjlok dari tahun sebelumnya.
Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Destinasi Wisata Disbudpar Berau, Samsiah Nawir menjelaskan secara global anggaran yang masuk ke Disbudpar Kabupaten Berau tahun 2026 mencapai Rp44.876.163.430,50.
“Tahun 2024 anggarannya Rp56.596.236.263. Lalu tahun 2025 Rp68.157.582.975,98. Lalu turun lagi di tahun 2026 Rp44 miliar,” ungkapnya kepada Klikborneo.com, Senin (26/1/2026).
Disampaikannya, anggaran tahun ini secara khusus dipakai untuk membiayai Kegiatan Rutin sejumlah Rp11.980.336.075, Kegiatan Bidang Kebudayaan Rp3.971.727.084, dan Kegiatan Bidang Pariwisata sejumlah Rp28.924.100.470,50.
“Dengan berkurangnya anggaran Dinas Pariwisata, tentu apa yang menjadi target kami harus diminimalisir lagi,” jelasnya.
Untuk menghadapi masalah anggaran itu, Samsiah meminta semua destinasi yang telah terbangun amenitasnya untuk mulai aktif berinovasi dan berkreasi.
“Misalnya Batu-Batu yang sudah dibangun plaza kuliner, dermaga wisatanya, juga jualan susur sungai, harus mulai diaktifkan sudah retribusinya,” terangnya.
Menurutnya, semua amenitas pariwisata yang yang telah terbangun itu harus menjadi modal awal bagi semua destinasi wisata untuk dapat bertahan dan terus berkembang.
“Sehingga ke depan kalau ada kekurangan-kekurangan, mereka tidak mengharap Pemda lagi,” bebernya.
“Seperti Air Panas kan ada yang namanya tiket itu untuk operasional, retribusi, untuk kampung. Itu bisa dikelola lagi untuk menambah amenitas-amenitas lain,” sambungnya.
Samsiah berharap keterbatasan anggaran yang ada tidak membuat pengelola destinasi wisata down. Sebaliknya semakin aktif membangkitkan ide-ide kreatif dan produktif untuk mempertahankan keberlanjutan dunia pariwisata Bumi Batiwakkal. (*/)
Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi