KLIK BORNEO – BERAU. Akhir-akhir ini banyak petani sawit Berau, khususnya yang berasal dari Kecamatan Biatan dan Kelay lebih memilih menjual tandan buah segar (TBS) ke kabupaten tetangga, Kutai Timur. Pilihan tersebut terjadi lantaran harga TBS di Berau dinilai tidak layak.
Menanggapi persoalan itu, Anggota DPRD Berau Sutami meminta perusahaan sawit di Berau untuk dapat menaikkan harga beli TBS agar menekan langkah petani menjual TBS-nya ke luar Berau. Berikutnya, tidak mempermainkan petani dengan harga yang tidak layak.
“Kami minta perusahaan ini jangan bandel. Kebetulan masalah ini ada di komisi kami, dalam jangka satu dua bulan ini kami rencanakan untuk bagaimana turun ke lapangan dan panggil pihak perusahaan agar bersama-sama menyelesaikan permasalahan harga ini,” ungkapnya.
Sutami menduga, menurunnya harga TBS yang dikenakan perusahaan ini tidak hanya terjadi karena kesengajaan perusahaan. Menurutnya, menurunnya harga itu juga terjadi karena adanya permainan oknum-oknum tertentu.
“Ini saya rasa bukan hanya kesengajaan perusahaan tetapi ada oknum tertentu yang bermain. Kami tidak tahu, apakah ada dinas perkebunan juga bermain,” jelasnya.
Disinggung terkait masih minimnya pabrik sawit di Berau, Sutami berharap agar ada penambahan. Apalagi, baginya, saat ini banyak masyarakat yang sudah membuka lahan untuk perkebunan sawit.
“Saya dengar ada perusahaan yang akan menambah pabrik. Dan mudah-mudahan ada pabrik-pabrik lain yang bisa ikut,” terangnya.
Ditambahkannya, selain membangun pabrik, perusahaan juga diharapkan dapat mengurus perizinan dengan sebaik-baiknya. Pasalnya, masih ditemukan juga perusahaan yang pabriknya bermasalah dari segi perizinan.
“Kita temukan ada beberapa yang izinnya juga belum beres. Sementara pabrik itu kalau kita berbicara mengenai regulasi, dia itu dari pinggir jalan itu kurang lebih 1-2 Km. Nah, ada kita temukan pabrik itu 500 meter. Itu tidak boleh,” tandasnya. (Adv/Elton)