KLIK BORNEO – BERAU. Volume sampah di Kabupaten Berau saat ini diklaim terus mengalami peningkatan. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau pun telah menggaungkan Berau sedang berada dalam kondisi “darurat sampah.”
Meskipun demikian, pengolahan sampah secara terpadu belum menyentuh semua kecamatan. Kekurangan sarana dan prasarana (sarpras) serta sumber daya manusia (SDM) menyebabkan DLHK baru melakukan pengolahan sampah di 7 kecamatan.
Sekretaris DLHK Kabupaten Berau, Masrani mengaku dari 13 kecamatan yang ada di Berau, volume sampah terbesar dihasilkan oleh masyarakat di 4 empat kecamatan dalam wilayah perkotaan, yakni Tanjung Redeb, Gunung Tabur, Sambaliung, dan Teluk Bayur.
“Biasanya meningkat drastis itu selama Bulan Ramadan karena kita tahu bagaimana meningkatnya konsumsi masyarakat,” ungkapnya.
“Tapi dari 13 kecamatan itu, kita baru melayani pengolahan sampah di 7 kecamatan, yakni Tanjung Redeb, Sambaliung, Teluk Bayur, Gunung Tabur, Derawan, Maratua, dan Talisayan,” sambungnya.
Sedangkan untuk 6 kecamatan lain, Masrani menegaskan pengolahan sampah akan dilakukan secara maksimal apabila telah terbangun sarpras seperti Tempat Pengolahan Sampah Reduduce – Reuse – Recycle (TPS3R) dan telah tercukupi SDM.
“Untuk Segah, Kelay, Biatan, Tabalar, Batu Putih, dan Biduk-Biduk, kita bangun dulu sarprasnya. Lalu pengadaan SDM kalau tidak ada lagi honorer, kita akan bekerja sama dengan kecamatan dan kampung,” bebernya.
Ditambahkannya, pemerintah daerah telah berencana akan memaksimalkan pembangunan TPS3R di semua kecamatan. Agar pengelolaan sampah secara terpadu juga dapat memberikan keuntungan finansial bagi daerah dan masyarakat.
“Kalau sudah terbangun TPS3R maka akan dibarengi dengan pembangunan UPTD. Mungkin satu UPTD melayani beberapa kecamatan,” tandasnya. (*/)
Penulis: Yoakim Elton SW
Rahmat Efendi