Segudang Masalah Bayangi RSUD Tanjung Redeb, Dari Sampah Hingga Lahan

KLIK BORNEO – BERAU. Rencana beroperasinya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjung Redeb pada Mei 2026 mendatang kian melahirkan pesimisme.

Lantaran segudang persoalan rumit dan kompleks kian bermunculan dan menghantui rencana tersebut.

Tak hanya soal Tempat Pengolahan Akhir (TPA) sampah di wilayah Bujangga yang menghambat beroperasinya rumah sakit itu.

Persoalan alat kesehatan (alkes) dan tenaga kesehatan (nakes) yang bekerja tetap di RSUD baru, tanpa harus berpindah-pindah juga belum menuai kepastian.

Lebih dari itu, masalah lahan di sekitar RSUD Tanjung Redeb yang belum ‘clean and clear’, kini mencuat lagi ke permukaan dan menimbulkan kontroversi baru.

Alhasil, harapan masyarakat untuk segera menikmati fasilitas kesehatan baru dan dalam waktu yang tak lama lagi, tak mungkin digapai.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Lamlay Sarie mengaku beroperasinya RSUD tersebut dalam waktu dekat merupakan tugas besar. Apalagi banyak hal belum terselesaikan dengan baik.

“Sehingga terlalu cepat itu kayaknya tidak mungkin, karena itu perkara kompleks,” ungkapnya.

“Tapi saya tidak bilang itu tugas berat. Itu tugas besar. Artinya semua harus duduk bersama, bukan hanya Dinas Kesehatan,” sambungnya.

Terkait peluang layanan tertentu seperti IGD yang bisa difungsikan untuk melengkapi kekurangan pelayanan dari RSUD Abdul Rivai, Lamlai sendiri menyebut tak mungkin terlaksana.

Pasalnya, sesuai standar definisi RS dan peraturan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), semua layanan harus dijalankan serentak dan bersamaan tanpa mengabaikan yang lain.

“Karena RS harus beri layanan emergency, layanan poli, layanan rawat inap. Tapi intinya dari analisa kami di Dinkes, tahun ini harus dibuka,” tandasnya singkat. (*/)

Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT