KLIK BORNEO – BERAU. Ketiadaan Rumah Pilah Sampah atau Tempat Pengolahan Sampah Reduce – Reuse – Recycle (TPS3R) di Pulau Maratua menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam upaya membebaskan destinasi wisata ini dari masalah sampah.
Karena itu, keberadaan TPS3R dinilai bersifat mendesak dan sangat dibutuhkan. Apalagi sampah-sampah yang ditangani selama ini harus diangkut keluar dari Maratua melalui jalur laut, menuju ke Tanjung Batu di Kecamatan Pulau Derawan.
Masrani, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Berau menjelaskan pengangkutan sampah dari Maratua menuju ke Tanjung Batu selama ini tidaklah mudah dan terlalu berisiko.
Gelombang laut yang menantang, jarak tempuh yang cukup jauh, dan kapasitas kapal yang tidak sebanding dengan tonase sampah yang diangkut, menjadi alarm bagi kehadiran TPS3R Maratua.
“Maratua sangat sensitif karena jauh. Angkut kapalnya jauh. Harapan kami sampah di Maratua itu sudah habis sampai di situ saja. Jangan diangkut ke darat, tidak perlu dibawa ke Tanjung Batu,” ungkapnya.
“Lalu ada teknologi yang dapat mengolah sampah di sana bernilai ekonomis, dikirim dan dijual ke Bank Sampah Induk. Yang residu bisa dijadikan kompos. Sehingga tidak ada lagi sampah di sana,” sambungnya.
Diakuinya, jumlah sampah Maratua memang tidak sebanyak Pulau Derawan. Namun, penataan sampah di Pulau Derawan saat ini lebih baik dari Maratua karena telah terbangun TPS3R.
“Itu sudah kita resmikan TPS3R di Derawan. Tinggal Maratua lagi. Untuk tekonologinya di Maratua kita mau yang sederhana saja. Karena sampahnya Maratua itu tidak sebanyak yang Pulau Derawan,” jelasnya.
Terkait pembangunan fisik TPS3R, Masrani mengaku menjadi tugas dan kewenangan DPUPR Berau. Saat ini progres pembangunannya masih dalam tahapan penataaan lahan.
“Jadi, yang dibangun PU sekarang kan masih tahap penataan lahan untuk pembangunan TPS3R di Maratua. Tahun ini kita harapkan bisa dilanjutkan pembangunan TPS3R-nya,” tandasnya. (*/)
Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi