KLIK BORNEO – BERAU. Selama ini, kemajuan pendidikan sering kali diukur dari megahnya bangunan beton atau deretan bangku baru yang mengisi ruang kelas. Padahal sekolah tak hanya tentang bagunan fisik.
Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto menegaskan tak ada gunanya gedung megah jika di dalamnya ruh pembelajaran tidak berdenyut kencang dan berbuah pada perbaikan kualitas sumber daya manusianya.
Menurutnya, tantangan pendidikan di Bumi Batiwakkal saat ini bukan lagi soal angka-angka di atas kertas anggaran. Alokasi 20 persen APBD memang sebuah mandat konstitusi yang tak bisa ditawar, tetapi itu hanyalah alat.
Persoalan sesungguhnya adalah bagaimana setiap rupiah yang keluar mampu menyentuh langsung denyut nadi di kelas-kelas, tempat guru dan siswa berinteraksi.
“Kalau pembangunan hanya fokus pada infrastruktur, sementara kualitas pengajaran belum maksimal, hasil pendidikan tentu belum bisa sesuai harapan,” ungkapnya.
Fenomena lama yang masih menghantui pendidikan di Berau adalah terjebak pada aspek fisik. Padahal, kualitas pendidikan yang sejati lahir dari tangan-tangan kreatif para guru.
Baginya, guru adalah aktor strategis, seniman yang membentuk mentalitas dan kompetensi generasi muda agar tak sekadar jadi penonton di daerahnya sendiri, tapi mampu bersaing di level nasional.
Karena itu, Dedy mendorong sebuah perubahan haluan. Peningkatan kompetensi guru harus naik kelas menjadi prioritas utama. Bukan sekadar pelatihan formalitas, melainkan metode pembelajaran yang adaptif, segar, dan mampu mengikuti cepatnya perkembangan zaman.
“Guru harus dibekali dengan kreativitas untuk menciptakan suasana belajar yang efektif sekaligus menyenangkan,” jelasnya.
Namun, diakui Dedy, perubahan ini tak bisa berjalan sekali jadi. Perlu ada perencanaan, pengawasan, hingga evaluasi menyeluruh. Agar semua pembangunan benar-benar meningkatkan mutu yang nyata.
“Pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga bagaimana membentuk karakter dan kemampuan anak-anak kita agar siap menghadapi tantangan ke depan,” pungkasnya. (Adv)
Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi