Kembangkan Tambak Mangrove, Berau Bidik Produksi Perikanan 2.300 Ton

KLIK BORNEO – BERAU. Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau tengah gencar memperluas metode silvofishery terintegrasi mangrove untuk mendongkrak total produksi budidaya perikanan daerah hingga mencapai target 2.300 ton.

Langkah strategis berbasis lingkungan itu siap ditempuh setelah pemanfaatan ekosistem hutan bakau tersebut terbukti sukses melambungkan produksi udang windu organik lokal hingga menembus angka 1.200 ton per tahun.

Melalui pengawalan intensif, sistem ramah lingkungan ini tidak hanya berhasil meningkatkan produktivitas tetapi juga mulai mengubah pola pikir para petambak tradisional di Bumi Batiwakkal.

Kepala Bidang Budidaya Diskan Berau, Budiono menyebutkan bahwa tren positif tersebut terus terjaga berkat pendampingan berkelanjutan di lapangan.

“Untuk perkembangannya sekarang masih menunjukkan kecenderungan meningkat karena ada pendampingan melalui program tambak ‘SECURE’. Ada peningkatan produktivitas,” ungkapnya.

Menurutnya, rahasia di balik suksesnya metode ini terletak pada pemanfaatan ekosistem mangrove untuk menyediakan unsur hara dan memproduksi pakan alami di area tambak.

Daun dan ranting bakau yang gugur menjadi nutrisi utama yang menyuburkan mikroorganisme seperti fitoplankton dan zooplankton.

“Integrasi alam ini merupakan kunci utama untuk menghasilkan produk perikanan premium yang bernilai tinggi,” jelasnya.

“Seharusnya ada ekosistem mangrove di tambak untuk menambah ketersediaan unsur hara. Karena output-nya ini udang organik tanpa pakan buatan. Makanan udang diperoleh dari unsur hara mangrove itu sendiri,” sambungnya.

Saat ini, lanjutnya, kawasan hijau pencetak udang windu tersebut tersebar di beberapa titik strategis Berau.

Kampung Pegat Batumbuk, Suaran, dan Tabalar Muara menjadi pusat pendampingan utama, sementara Kampung Kasai dan Semanting masuk dalam daftar wilayah potensial yang terus dikembangkan.

Dinas Perikanan Berau kini membidik target yang lebih besar, yakni mereplikasi model berkelanjutan ini ke seluruh tambak konvensional milik warga secara lebih luas.

“Dengan tujuan agar komoditas lain seperti ikan bandeng dan kepiting ikut terdongkrak,” terangnya.

Budiono berharap, target total 2.300 ton itu dapat tercapai. Karena itu, sinergi yang kuat di antara semua pemangku kepentingan sangat dibutuhkan. (Adv/*)

Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT