KLIK BORNEO – BERAU. Pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi menggelar operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk menanggulangi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau.
Operasi ini diinisiasi langsung berdasarkan permintaan resmi dari Bupati Berau kepada Kepala BNPB dan Kepala BMKG.
Analis Kebencanaan Ahli Madya pada Kedeputian Bidang Penanganan Darurat BNPB RI, Tono Sumarsono menjelaskan bahwa operasi ini merupakan bentuk nyata dukungan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam mempercepat pemadaman karhutla.
“Kami menjadwalkan operasi ini berlangsung selama lima hari ke depan, menyesuaikan dengan rekomendasi potensi awan yang ada. Pemerintah pusat hadir karena penanganan bencana harus dilakukan bersama-sama oleh pusat, daerah, hingga dunia usaha,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, BNPB berkolaborasi dengan pihak ketiga di bawah pengawasan dan rekomendasi teknis dari Direktorat Modifikasi Cuaca BMKG. Posko bersama juga telah dibentuk dengan melibatkan perwakilan lintas sektor, mulai dari BNPB, pemerintah daerah, otoritas bandara, hingga stasiun meteorologi setempat.
Untuk mendukung misi ini, satu unit pesawat Cessna Grand Caravan 208B yang sebelumnya beroperasi di Kalimantan Selatan telah disiagakan di Berau. Pesawat ini memiliki kapasitas angkut hingga 1 ton bahan semai untuk sekali terbang.
Pemerintah juga telah menyiapkan total 10 ton garam khusus yang dikirim langsung dari Jakarta. Jika pasokan tersebut masih kurang, BNPB siap mendatangkan bahan semai tambahan. Tim di posko terus bersiaga hingga sore dan malam hari untuk memantau pergerakan awan.
“Begitu radar menunjukkan adanya potensi awan yang siap disemai, proses loading bahan ke pesawat dimaksimalkan hanya dalam waktu setengah jam sebelum langsung lepas landas,” jelasnya.
“Target utama kami adalah menurunkan hujan sebanyak mungkin, jadi kami tidak membatasi jumlah penerbangan selama potensinya ada,” sambungnya.
Dari sisi teknis meteorologi, Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Muda Kedeputian Modifikasi Cuaca, Hari Saputro, mengungkapkan bahwa kondisi atmosfer di wilayah Berau saat ini sangat mendukung untuk dilakukan penyemaian.
“Berdasarkan pantauan dari pagi hingga sore, bibit-bibit awan potensial yang kaya akan uap air cukup banyak. Kemungkinan akurasi prediksi cuaca kami mencapai 90 hingga 98 persen sesuai rencana,” bebernya.
Lebih lanjut ditegaskannya, modifikasi cuaca bukan berarti membuat awan dari nol, melainkan mempercepat proses terjadinya hujan dari awan yang sudah ada. Bahan semai yang digunakan pun merupakan garam khusus berukuran sangat halus, yaitu 0,1 mikro.
“Garam ini disemai ke dalam awan yang padat uap air untuk mendorong percepatan kondensasi menjadi butiran hujan. Tingkat keberhasilan operasi ini berada di angka 30 hingga 50 persen tergantung pada dinamika potensi awan, dengan estimasi waktu tunggu hingga turunnya hujan sekitar 2 sampai 3 jam setelah penyemaian,” pungkas Hari.
Operasi TMC ini diharapkan mampu menekan titik api (hotspot) secara signifikan dan membasahi lahan-lahan kering di Berau guna mencegah meluasnya dampak karhutla. (*/)
Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi