KLIK BORNEO – BERAU. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau terus memantapkan diversifikasi ekonomi daerah berbasis subsektor perkebunan. Komoditas kakao dan kelapa kini digenjot sebagai program unggulan daerah. Komitmen ini membuahkan hasil positif setelah Kementerian Pertanian memberikan alokasi bantuan penguatan lahan seluas 400 hektare pada tahun 2026, yang terbagi masing-masing 200 hektare untuk kakao dan 200 hektare untuk kelapa.
Sekretaris Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Berau, Mansur Tanca, menjelaskan bahwa alokasi ini merupakan buah dari pengajuan langsung Bupati Berau saat melakukan audiensi dengan Menteri Pertanian.
“Bantuan ini merupakan hasil pengajuan Bupati saat bertemu Menteri Pertanian. Alhamdulillah, kita mendapatkan masing-masing 200 hektare untuk kakao dan 200 hektare untuk kelapa,” ujarnya.
Menurut Mansur, program peremajaan dan perluasan areal ini dirancang untuk mendongkrak produktivitas komoditas perkebunan di Bumi Batiwakkal. Saat ini, luasan lahan tanaman kakao eksisting di Berau tercatat sekitar 1.050 hektare, dengan pusat produksi utama berada di Kecamatan Sambaliung, disusul Gunung Tabur dan Kelay.
Perkembangan produksi perkebunan Berau sendiri terus menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun. Pada kurun 2024 hingga 2025, produksi kakao tercatat tumbuh dari kisaran 350 hingga 450 ton, dan ditargetkan mampu menembus lebih dari 650 ton per tahun seiring masuknya bantuan rehabilitasi lahan pada 2026. Sementara itu, komoditas kelapa yang mencatatkan produksi 1.200 ton pada 2024 serta 1.350 ton pada 2025, diproyeksikan melonjak hingga melampaui 1.600 ton dengan adanya penambahan areal baru.
Penguatan di sisi hulu ini diimbangi oleh akselerasi jaringan pemasaran yang kian meluas. Biji kakao fermentasi asal Berau yang telah memiliki Sertifikat Indikasi Geografis (IG) rutin menembus pasar ekspor mancanegara, seperti Prancis dan Swiss, di samping memenuhi kebutuhan industri cokelat olahan skala nasional di Jawa dan Sulawesi. Di sisi lain, pemasaran komoditas kelapa difokuskan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian masyarakat di wilayah Kalimantan Timur sekaligus disiapkan sebagai pasokan bahan baku industri produk olahan turunan seperti minyak kelapa murni (VCO) dan kopra.
Melalui sinergi pendampingan petani berbasis Good Agricultural Practices (GAP) serta dukungan perluasan areal dari pemerintah pusat, Pemkab Berau optimistis sektor perkebunan mampu menjadi tumpuan ekonomi hijau yang menyejahterakan masyarakat secara berkelanjutan.(Adv/*)
Penulis : Yoakim Elton SW
Editor : Rahmat Efendi