Labanan Jaya Sukses Panen Padi Premium di Tengah Tantangan Cuaca Ekstrem

KLIK BORNEO – BERAU. Di tengah bayang-bayang cuaca ekstrem dan kemarau panjang yang memicu kekeringan di berbagai wilayah, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Labanan Jaya justru sukses menggelar acara syukuran atas keberhasilan panen padi musim gadu 2026.Tak ayal, apresiasi tinggi datang langsung dari Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan bukti nyata dari dedikasi dan kerja keras seluruh petani lokal.

“Di tengah cuaca ekstrem panas berkepanjangan yang menyebabkan banyak padi puso gagal di tempat lain, sebagian besar tanaman di Labanan Jaya pada musim gadu ini justru berhasil dipanen. Ini adalah buah dari kerja keras semua petani di sini,” ungkapnya.

Diakuinya, Kampung Labanan Jaya sudah lama dikenal sebagai salah satu sentra padi utama di Kabupaten Berau. Meski sempat mengalami penurunan produksi, momen panen kali ini diproyeksikan menjadi titik balik kebangkitan pertanian setempat.

“Dengan keberhasilan ini kita ajak kaum muda untuk berani jadi petani dan menjadikan Labanan Jaya sebagai lumbung pangan berkelanjutan di Kabupaten Berau,” jelasnya.

Menurutnya, keberhasilan itu juga tidak terlepas dari perluasan lahan yang terencana dengan baik. Saat ini, total luas lahan sawah di Labanan Jaya telah mencapai 336 hektare (Ha).

Lahan tersebut terdiri dari 268 Ha Luas Baku Sawah (LBS) utama dan 68 Ha Lahan tambahan hasil program cetak sawah baru yang sukses dibangun berkat sinergi erat bersama TNI.

Pada musim gadu yang berlangsung sepanjang Juni hingga Agustus ini, para petani berhasil menanami lahan seluas 118,7 Ha. Hebatnya, di tengah kepungan kemarau, 75 Ha lahan berhasil dipanen dan menghasilkan produktivitas rata-rata mencapai 3,19 ton beras/Ha.

Secara simbolis, lanjutnya, pemotongan padi pada panen kali ini menggunakan varietas Kolosebo, salah satu jenis padi premium andalan. Varietas ini dipilih karena memiliki keunggulan masa tanam yang relatif singkat, yaitu hanya sekitar 95 hari.

Dalam kondisi optimal, varietas Kolosebo sebetulnya memiliki potensi produksi yang sangat fantastis, yakni mencapai 8 ton/Ha. Meski hantaman kekeringan musim ini membuat angka produksi sedikit menurun dari potensi maksimalnya, kualitas beras premium yang dihasilkan tetap menjadi komoditas bernilai tinggi bagi kesejahteraan petani.

“Untuk maksimalkan potensi ini, ke depan kami akan terus berupaya membantu lewat penguatan sarana produksi, modernisasi alat pertanian, dan sebagainya,” tandasnya. (Adv/*)

Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT