Tenguyun, Upaya Bulungan Capai Kedaulatan Pangan

Bupati Bulungan Syarwani membuka rapat koordinasi camat dan kepala desa se-kabupaten Bulungan.

BULUNGAN.  Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, mempersiapkan daerahnya untuk mencapai kedaulatan pangan dengan tenguyun. Tenguyun, yang diambil dari bahasa Bulungan, bermakna gotong-royong. Dalam konteks ini, tenguyun dimaknai sebagai proses bersama sama memikirkan cara untuk mewujudkan kedaulatan pangan.

“Kami, di Bulungan, mendorong terwujudnya kedaulatan pangan dengan tenguyun yang hari ini diwujudkan dalam bentuk rapat koordinasi desa-desa dan kecamatan se-kabupaten,”ujar Bupati Bulungan Syarwani ketika membuka  kegiatan “Sinkronisasi dan Sinergitas Perencanaan Pembangunan untuk Penguatan Peran Desa dan Kecamatan dalam Mewujudkan Kedaulatan Pangan”, pada Senin, 20 November 2023.

Kegiatan yang digelar selama 20-21 November 2023 itu menghadirkan perwakilan 74 desa dan 10 kecamatan di Bulungan. Kegiatan ini juga didukung oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Mitra Bulungan Berdaulat, Yayasan Pionir, dan Yayasan Institute for Research and Empowerement (IRE). Para pemangku kepentingan yang hadir diharapkan menghasilkan keluaran berupa peta jalan tentang kedaulatan pangan berbasis desa.

Status kedaulatan pangan Indonesia diketahui masih rendah, yaitu berada di urutan 69 dari 113 negara dunia (2021). Data Global Food Security Index (GFSI) tahun 2022 menunjukkan  indeks ketahanan pangan Indonesia mengalami peningkatan di angka 60,2 atau naik dari level 59,2 (2021). Badan Pangan Nasional menargetkan skor GFSI akan membaik padatahun 2024 dengan angka 69,8. Target tersebut termuat dalam rencana strategis Badan Pangan Nasional 2022-2024. Salah satu upaya mencapai target adalah menyelaraskan pembangunan perdesaan, yang kini sedang diarusutamakan dan diintegrasikan oleh Kabupaten Bulungan. 

Kabupaten Bulungan memiliki visi untuk berdaulat pangan, maju, dan sejahtera. Pada tahun 2022, Yayasan IRE dengan dukungan YKAN melakukan asesmen potensi sumber daya alam pada 10 desa di Kabupaten Bulungan, khususnya yang berada di lanskap Kayan. Hasilnya menunjukkan bahwa sektor pertanian, perikanan, perkebunan, dan pengolahan hasil hutan bukan kayu adalah mayoritas penghidupan masyarakat di sana. Pertanian padi, khususnya padi apokayan, padi hutan, padi gunung, padi ketan merah, dan padi ketan putih menjadi sumber pangan lokal. “Plasma nutfah ini adalah salah satu kekayaan Bulungan yang akan kita dorong untuk dikelola dengan optimal dalam koridor dan kaidah pembangunan berkelanjutan,”ujar Manajer Senior Program Terestrial Niel Makinuddin dalam kesempatan terpisah.

Niel mengatakan bahwa tenguyun adalah langkah untuk mengembalikan Bulungan kepada khitahnya. Sebagai kabupaten yang mendorong upaya partisipatif warga untuk kembali memperkuat potensi dan aset yang dimiliki supaya bisa mandiri dan madani. Kegiatan dua hari ini adalah langkah awal  untuk membangun Bulungan dari pedesaan. Kabupaten ini memiliki moto “Merudung Pebatun de Benuanta”, yang dalam Bahasa setempat artinya bahu-membahu antarseluruh lapisan masyarakat dalam membawa Kabupaten Bulungan ke arah yang lebih baik. “Warga Bulungan-lah yang akan menentukan arah pembangunan daerahnya sendiri, “ujar Bupati Syarwani.(hms-YKAN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT