KLIK BORNEO – BERAU. Distribusi LPG 3 Kg ke wilayah pesisir selatan Berau masih sangat terbatas. Di tengah keterbatasan kuota gas melon itu, pangkalan nakal juga dinilai masih banyak berkeliaran. Hal itu disampaikan Kepala Kampung Talisayan, Ali Wardana menanggapi wartawan Klikborneo.com terkait distribusi gas LPG 3 Kg di wilayah pesisir umumnya dan Talisayan khususnya, pada Jumat (7/02/2025).
Menurut Ali, kuota LPG yang terbatas itu dapat dilihat dari distribusi yang terjadi ke kampungnya pada Kamis (6/02/2025). Gas LPG 3 Kg yang diterima warga dari pengecer di Talisayan hanya mencapai 40 tabung. Sisanya, Gas 5 Kg 160 tabung dan 12 Kg 290 tabung.
“Itu habis langsung. Karena beberapa hari ini stok khusus gas melon ini baru nyampe. Sehingga ketika datang warga langsung membludak. Panic Buying-lah masyarakat,” ungkapnya.
Disampaikannya, di tengah keterbatasan LPG itu masih ada juga pangkalan yang nakal. Kenakalan pangkalan itu dapat dilihat dari keterlibatannya dalam mengatur distribusi dan menetapkan harga secara tertutup.
“Maksudnya begini, ada itu pangkalan, dia tidak pasang plang pangkalan. Heatnya juga dilepas. Lalu kadang ada pangkalan itu, dia jual melebihi heat,” jelasnya.
Saat ini, lanjutnya, memang penentuan jumlah agen mesti disetujui Pertamina. Termasuk pangkalan yang ada harus bekerja sama dengan agen. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa banyaknya agen dan pangkalan menyebabkan distribusi menjadi kacau.
Kekacauan distribusi itu, baginya, tak seiring dengan maksimalnya pengawasan di lapangan. Pengawasan kampung dan kecamatan saat ini bahkan tidak ada lagi. Hal ini turut menyebabkan kuota LPG yang didistribusikan tidak sesuai dengan jumlah kebutuhan.
“Harusnya coba dikerjasamakan setiap gas masuk itu kita bisa pantau sama-sama. Kalau sebelumnya katanya di kecamatan itu ada (pengawasan, Red), harus bikin laporan semacam surat jalan,” terangnya.
“Kalau ada surat jalan kan enak. Misalnya satu kali angkut untuk jatah Talisayan berapa. Kita juga enak monitor. Kalau sekarang ini, berapa yang diberi pangkalan itu yang dibagikan pengecer,” sambunganya.
Terkait pengawasan, Ali meminta pihak Pertamina agar dapat melibatkan pemerintah kampung dan kecamatan. Apalagi baginya, wilayah pesisir pada umumnya sangat bergantung pada LPG yang didistribusikan dari Tanjung Redeb.
“Kita kan tidak mau menuduh. Hanya perlu ada pengawasan dari kampung biar sama-sama mengawasi. Terus untuk kuota ini apalagi mau bulan puasa kita tentu butuh tambahan,” tandasnya.
Terpisah, Sales Branch Manager PT Pertamina Patra Niaga Kaltimut III, Azri Ramadan Tambunan saat dikonfirmasi terkait masalah distribusi LPG di Talisayan tidak memberikan jawaban yang memadai. Dirinya hanya menyebut suplai LPG yang masih normal. “Suplai alhamdulillah normal saja dan tidak ada kendala,” tandasnya singkat kepada Klikborneo.com. (Elton)