KLIK BORNEO – BERAU. Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Rivai dinilai kian merosot dan kacau balau. Segudang keluhan pun terus berdatangan tanpa henti, hingga menjadi pembicaraan serius jajaran legislatif.
Tak hanya obat-obatan yang tidak tersedia, upah layanan jasa tenaga medis yang berbulan-bulan tanpa kejelasan, hingga pemborosan anggaran yang menghantui pembangunan Gedung Walet; mewarnai semua keluhan yang ada.
“Harus ada yang bertanggung jawab dengan sistem layanan yang kacau balau ini,” tegas Anggota DPRD Berau, Abdul Waris saat rapat Evaluasi LKPJ Bupati Berau 2025 dan Persiapan Pengoperasian RSUD Tanjung Redeb, Senin (13/4/2026).
Untuk mengatasi masalah manajerial dan layanan kesehatan itu terperosok lebih jauh, Waris mendorong pemerintah daerah untuk segera mencopot jabatan direktur saat ini.
Bahkan, meminta direktur bersangkutan untuk mungundurkan diri. Sebab, tanpa manajemen yang baru, masalah yang sama akan terus terjadi setiap tahun.
“Harus ada yang tanggung jawab dengan kekacauan ini. Karena kalau dibiarkan, ya gini-gini aja layanan kita,” jelasnya.
“Siapa yang tanggung jawab sekarang? Ya, harus ada yang mesti korbankan jabatannya. Kalau tidak pasti terulang lagi, terulang lagi,” sambungnya.
Ditegaskannya, saat ini masih banyak orang muda berbakat yang memiliki kemampuan manajerial yang baik. Berikutnya, memahami sistem layanan kesehatan. Karena itu, Pemkab Berau perlu menyikapi segudang masalah yang menumpuk di RS tersebut secara serius.
“Kalau saya jadi bupati, saya berhentikan (direktur), walaupun dia teman saya,” tandasnya. (Adv)
Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi