Avtur Naik, Ekspor Kerapu Masih Stabil Lewat Laut: Tembus 20 Ton per Bulan

KLIK BORNEO – BERAU. Kenaikan harga avtur selama April hingga Mei 2026 berdampak pada melonjaknya harga tiket pesawat dan inflasi.

Hal tersebut pun dikhawatirkan turut mempengaruhi aktivitas ekspor ikan kerapu Kabupaten Berau menuju negara tujuan, Hong Kong.

Kepala Bidang (Kabid) Budidya Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Budiono menegaskan kenaikan harga avtur saat ini tak berdampak signifikan terhadap ekspor kerapu ke luar negeri.

Pasalnya, ekspor kerapu yang masih hidup dan segar sendiri, lebih banyak dikirim ke luar negeri lewat jalur laut, khususnya lewat Maratua.

“Karena kita mengirim lewat kapal transit yang ke Hongkong. Ada ekspor lewat udara tapi bukan ikan hidup, segar,” ungkapnya.

Lebih lanjut, disampaikan Budiono, jumlah kerapu hidup yang diekspor ke Hong Kong tiap bulan mencapai 20 ton.

Apabila jumlah ekspor itu dipertahankan secara konsisten maka di akhir tahun jumlah ekspor kerapu ke Hong Kong mencapai 240 ton atau lebih besar dari tahun 2025 lalu.

“Kalau tahun 2025 itu 149 ton. Tahun 2026 ini, baru 4 bulan sudah 80 ton, karena rata-rata 20 ton per bulan,” jelasnya.

Maratua sendiri lanjutnya, menjadi salah satu dari dua pelabuhan di Provinsi Kaltim yang ditunjuk langsung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk menjadi pelabuhan ekspor.

“Jadi, di Kaltim itu ada dua, Maratua dan Bontang, terutama untuk mengambil hasil budidaya laut yakni kerapu dan lobster,” terangnya.

Sebagai pelabuhan ekspor, kapal-kapal dari Hong Kong juga dapat bersandar di pelabuhan tersebut, untuk selanjutnya membawa hasil ekspor ke negara tujuan.

“Untuk teman-teman dari pesisir seperti Batu Putih dan Biduk-Biduk juga mengirimnya lewat Maratua,” tandasnya. (*/)

Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT