KLIK BORNEO – BERAU. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK Berau) resmi menerapkan pembagian peran wilayah demi menjaga keberlanjutan ekspor kerajinan rotan Berau.
Dalam skema pemetaan terpadu ini, Kampung Teluk Sumbang ditetapkan sebagai pusat hilirisasi produksi, sementara Kecamatan Kelay dan Kecamatan Segah bertindak sebagai penyuplai utama bahan baku.
Penetapan itu dilakukan pemerintah daerah sebagai respons konkret pasca keberhasilan pot bunga rotan dan aneka produk dekoratif buatan perajin lokal menembus Benua Eropa, khususnya Belanda.
Kepala DPMK Berau, Tenteram Rahayu menegaskan bahwa kepastian suplai bahan baku menjadi indikator penting saat industri lokal sudah terikat kontrak kerja sama perdagangan internasional.
Karena itu fokus pihaknya tidak hanya diarahkan pada hilirisasi rotan. Pasokan bahan baku juga akan terus dijaga. Sebab, terhentinya pasokan di tengah jalan berisiko fatal pada pemutusan kerja sama dengan pihak luar negeri.
“Ketika sudah ada perjanjian kerja sama atau kontrak dengan pihak luar, pasokan bahan baku tidak boleh terganggu. Sekali suplai terhenti, hal itu bisa memutus kontrak yang sudah disepakati. Ini yang sangat kita jaga,” ungkapnya.
“Jadi, pusat hilirisasinya di Teluk Sumbang. Kelay dan Segah kita optimalkan untuk amankan ketersediaan material mentah guna menyokong kebutuhan produksi di pusat hilirisasi,” sambungnya.
Pemetaan dan integrasi antarkampung ini, lanjutnya, dirancang agar beban industri terbagi secara proporsional dan tidak tumpang tindih. Berikutnya, pembangunan dari hulu hingga hilirnya dapat berjalan bersamaan dan berkesinambungan.
“Tidak bisa dipaksakan semua kampung melakukan hilirisasi sampai produk akhir. Harus ada pembagian peran yang jelas agar rantai pasok tetap terjaga dan berkesinambungan,” jelasnya.
Tak hanya memperkuat manajemen logistik dari hulu ke hilir, DPMK Berau juga terus memacu para pengrajin di Teluk Sumbang agar adaptif terhadap dinamika pasar global. Salah satu inovasi yang terbukti mendongkrak nilai jual secara signifikan adalah keberanian memadukan anyaman rotan dengan aksen kulit premium.
“Nah, kombinasi ini sudah menghasilkan produk berstandar modern yang sesuai dengan selera konsumen internasional,” bebernya.
Melalui kolaborasi lintas wilayah yang solid ini, tambahnya, Pemkab Berau optimis industri kreatif berbasis rotan lokal tidak hanya mampu bertahan di panggung dunia, tetapi juga siap memperluas jangkauan pasar ekspor ke berbagai negara potensial lainnya. (Adv/*)
Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi