KLIK BORNEO – BERAU. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau melalui Dinas Perkebunan (Disbun) terus bergerak masif dalam memperluas area tanam komoditas kakao di Bumi Batiwakkal. Langkah strategis ini diambil guna menjaga stabilitas produktivitas sekaligus memperkuat posisi kakao Berau yang kini mulai diperhitungkan di rantai pasok premium pasar internasional.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disbun Berau, Hendratno menjelaskan bahwa pemerintah daerah awalnya menetapkan target rutin pembukaan lahan baru sebesar 100 hektare (Ha) setiap tahunnya.
Namun, berkat sinergi dengan pemerintah pusat, akselerasi perluasan lahan di tahun 2026 ini melonjak signifikan.
Kabupaten Berau berhasil mengamankan alokasi bantuan perluasan dari Kementerian Pertanian sebesar 400 hektare, di mana 200 hektare dialokasikan khusus untuk kakao dan 200 hektare sisanya untuk komoditas kelapa.
Lonjakan bantuan pusat di tahun 2026 ini membuat total luas kebun kakao Berau kini mencapai sekitar 1.050 hektare, meningkat dari tahun sebelumnya yang berada di angka 1.037 hektare dengan total produksi rata-rata berkisar 800 ton per tahun.
Menurut Hendratno, pengembangan komoditas unggulan ini dilakukan secara bertahap dan selektif. Pemkab Berau tidak hanya fokus pada kuantitas luasan lahan, melainkan juga aspek keberlanjutan dan kesiapan para petani di lapangan.
“Penambahan lahan ini kami arahkan untuk petani yang serius dan lahannya bebas banjir. Selain itu, pendampingan tetap kami lakukan dari hulu ke hilir melalui bantuan alat fermentasi, pupuk, serta pelatihan sumber daya manusia (SDM),” ungkapnya.
Saat ini, Kecamatan Sambaliung masih menjadi sentra utama penghasil kakao di Berau dengan mendominasi luasan lahan mencapai 479 hektare.
Sementara sisanya tersebar di beberapa wilayah potensial seperti Kecamatan Kelay, Segah, Long Lanuk, Kampung Merasa, dan Kampung Birang.
Meski luasan lahan kakao Berau tergolong belum terlalu besar jika dibandingkan komoditas perkebunan lainnya, kualitas biji kakao fermentasi khas Berau terbukti memiliki cita rasa unik yang memikat pasar global.
“Salah satu pencapaian yang sudah berhasil kita raih adalah terjalinnya kerja sama dengan perusahaan cokelat premium ternama asal Prancis, Valrhona,” jelasnya.
Perusahaan internasional tersebut telah berkomitmen untuk menyerap biji kakao Berau untuk diekspor ke Eropa. Momentum ini menjadi babak baru bagi kesejahteraan petani lokal.
Dengan perpaduan perluasan lahan yang terukur pada tahun 2026 dan jaminan serapan pasar premium di Eropa, komoditas kakao diproyeksikan akan menjadi salah satu pilar utama penggerak ekonomi hijau baru di Bumi Batiwakkal. (Adv/*)
Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi