KLIK BORNEO – BERAU. Kampung Teluk Sulaiman, sebuah wilayah pesisir di Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, menyimpan potensi besar sebagai pusat ekowisata dan penghubung ekonomi kawasan pesisir selatan. Berada di bentang alam pesisir, wilayah ini memiliki keunggulan ekosistem mangrove di aliran Salo Buaya, kawasan perairan konservasi habitat penyu sisik dan penyu hijau di Muara Penyu, hingga pesona terumbu karang di Pulau Sigending Besar.
Selain keindahan bahari, Teluk Sulaiman diproyeksikan menjadi simpul konektivitas laut dan pintu gerbang utama pergerakan wisatawan serta logistik antar-wilayah pesisir Berau.
Untuk memaksimalkan potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mengintegrasikan program pembangunan daerah dengan kebijakan prioritas nasional, khususnya dalam menyongsong peran Kalimantan Timur sebagai penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Dermaga Teluk Sulaiman dan infrastruktur penunjangnya bukan sekadar bangunan fisik, melainkan urat nadi aksesibilitas pesisir,” ujar Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas.
Guna menunjang hal tersebut, Pemkab Berau melalui Dinas Perhubungan (Dishub) mengarahkan optimalisasi Dermaga Teluk Sulaiman yang bersinergi dengan program Kementerian Perhubungan RI.
Dermaga ini telah beroperasi secara fisik guna melayani kapal penumpang sekaligus penopang distribusi logistik, yang mempermudah aksesibilitas wisatawan menuju destinasi seperti Labuan Cermin dan Pulau Kaniungan.
Di sisi pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau menyelaraskan langkah dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI dalam program Desa Wisata dan Ekowisata Konservasi.
Realisasinya mencakup penetapan kawasan lindung perairan Pulau Sigending Besar seluas 1.500 hektare melalui SK Bupati Berau, pelatihan pemandu wisata lokal, serta penguatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Progres di lapangan menunjukkan penerapan sustainable tourism berjalan konsisten, seperti aturan mematikan mesin kapal di area konservasi penyu.
“Teluk Sulaiman memiliki keunggulan komparatif berupa keterpaduan ekosistem mangrove, konservasi satwa, hingga terumbu karang yang harus kita kelola secara berkelanjutan,” kata Kepala Disbudpar Kabupaten Berau, Yudha Budisantosa.
Selain infrastruktur dan ekowisata, penguatan digitalisasi dan UMKM juga menjadi fokus prioritas. Pemerintah terus menambah bandwidth jaringan di destinasi pesisir serta memfasilitasi sertifikasi produk olahan lokal agar siap menunjang rantai pasok ekonomi kreatif.
“Kami ingin memastikan pariwisata di kawasan selatan Berau terus tumbuh pesat dan memberikan nilai tambah nyata bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal tanpa merusak ekosistem yang ada,” tegas Yudha Budisantosa.(Adv/*)
Penulis : Yoakim Elton SW
Editor. : Rahmat Efendi