KLIK BORNEO – BERAU. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) tengah bergerak cepat mematangkan strategi komprehensif untuk melejitkan daya tarik objek wisata Air Panas Pemapak.
Tidak lagi mengandalkan keindahan panorama alam yang statis, kawasan ini diproyeksikan bertransformasi menjadi destinasi wisata kesehatan (wellness tourism) modern berbasis narasi lokal (storytelling) dan ekspansi operasional malam hari.
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa menjelaskan penguatan aspek sejarah lokal dan testimoni riil menjadi pilar utama dalam menyusun strategi pemasaran yang persuasif.
“Kami diarahkan untuk melengkapi destinasi ini dengan narasi yang kuat sebagai daya tarik utama. Ada garis sejarah, kisah misteri, nilai religi, hingga dimensi kesehatan di balik Air Panas Pemapak yang harus tersampaikan dengan baik kepada publik,” ungkapnya.
Dalam cetak biru pengembangannya, lanjutnya, Disbudpar Berau akan merangkum berbagai potensi cerita lokal secara terstruktur.
Hal tersebut meliputi kronik penemuan awal lokasi, dokumentasi adat istiadat masyarakat setempat, hingga kompilasi kesaksian autentik dari para pengunjung yang telah merasakan langsung efek pemulihan fisik pasca-melakukan terapi air panas di sana.
Rekam jejak medis tradisional dan testimoni kesembuhan itu dinilai sebagai aset komunikasi pemasaran yang sangat bernilai.
Dengan membungkus data tersebut ke dalam sebuah narasi yang menyentuh sisi humanis, Air Panas Pemapak diharapkan mampu membangun ikatan emosional yang kuat dengan calon wisatawan.
Diakuinya, selain memperkaya konten budaya, lompatan inovasi juga dilakukan pada sisi manajemen operasional. Pemerintah daerah saat ini sedang melakukan studi kelayakan terkait rencana pembukaan fasilitas terapi pada malam hari.
“Ini untuk mengakomodasi kebutuhan segmen pasar spesifik, yaitu para wisatawan yang mendambakan ketenangan optimal dan pemulihan fisik di jam-jam istirahat,” jelasnya.
Guna mendukung kelancaran operasional malam, pemenuhan infrastruktur akomodasi yang representatif mutlak diperlukan.
Wisatawan membutuhkan tempat singgah yang memadai agar proses terapi dapat berjalan berkesinambungan tanpa terkendala masalah mobilitas kembali ke pusat kota.
Selama ini, tren kunjungan ke Air Panas Pemapak masih tertumpu pada siklus musim liburan (peak season). Melalui terobosan operasional malam dan penguatan narasi itu, Pemkab Berau optimistis mampu menciptakan stabilitas angka kunjungan yang konsisten pada hari-hari kerja (weekday).
Mengingat skala pengembangan kawasan yang masif, Pemkab Berau secara resmi membuka peluang kolaborasi seluas-luasnya bagi pihak swasta, korporasi, maupun investor lokal.
“Kami sangat terbuka dan menyambut baik kehadiran pihak ketiga atau investor yang berkomitmen membangun fasilitas pondokan maupun resort terintegrasi di kawasan ini. Sinergi ini penting karena percepatan pembangunan tidak bisa hanya bertumpu pada anggaran pemerintah,” bebernya.
Sebagai langkah taktis jangka pendek sebelum masuknya investasi skala besar, Disbudpar mendorong optimalisasi ekonomi kerakyatan melalui program homestay.
“Ini kita terus dorong sebagai solusi jangka pendek supaya masyarakat juga mendapat manfaat langsung,” pungkasnya. (Adv/*)
Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi