Menanam Harap di Baru Ilir: Kisah Suryani Membangun Kebun Gizi

Siti Suryani bersama warga Kelurahan Baru Ilir menyulap pekarangan terbatas menjadi Kebun Gizi hidroponik mandiri, demi memenuhi kebutuhan sayur sehat sekaligus menekan angka stunting.

KLIK BORNEO – BALIKPAPAN. Terik mentari yang menyengat Kota Balikpapan, Rabu (4/11/2026) siang, seolah tak mampu membakar tuntas semangatnya. Dengan senyum tipisnya yang menolak lekang, jemari lentiknya masih cekatan memetik satu per satu cabai rawit yang mulai memerah, tepat di pelupuk matanya.

Itulah dia, Siti Suryani (38), wanita tangguh dari RT 12, Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat, yang menghabiskan banyak waktunya di pekarangan asrama TNI Angkatan Darat (AD) yang telah disulap kini jadi Kebun Hidroponik, “Kebun Gizi” masyarakat.

Dengan tekadnya yang kuat, Suryani akhirnya mulai berpeluh-peluh. Di atas lahan terbatas itu, cabai, sawi pakcoy, selada, bayam Brazil, seledri, hingga tomat; tumbuh meriap, menjemput matahari. Tanaman itu tumbuh di atas wadah yang diatur rapi, berjejal satu demi satu di barisannya masing-masing agar bisa dirawat dengan mudah.

Tak hanya itu, tanaman obat seperti jahe, kunyit, temulawak, dan kumis kucing juga memiliki rumahnya masing-masing demi menghindari hukum rimba dan kutukan hama pengganggu. Semua tanaman obat itu dibudidayakan hanya dengan satu tujuan mulia, menghindari ketergantungan warga Baru Ilir dari konsumsi obat-obatan medis dan kimia.

Karena itu, bersama ibu-ibu kader Posyandu lainnya, kebun serupa taman mini itu kini tak hanya menjelma sumber sayur rumah tangga. Ia juga jadi sumber gizi bagi balita, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) anak-anak terindikasi stunting, dan “apotek hidup” warga sekitar tempat tinggalnya.

IMG 20261104 WA0027

Lokasinya yang tepat berada persis di samping Posyandu juga menjadi perpustakaan hidup bagi warga sekitar dan tentu anak-anak yang mencintai tanaman. Kelihatan sederhana, tetapi itulah tujuan edukatif yang coba ditawarkan dari kebun kecil yang subur itu.

“Kalau misalnya ada indikasi warga yang datang ke Posyandu dan tidak enak badan, kita bisa rebus langsung jahe sama kunyit. Kita ajak mereka untuk konsumsi obat herbal,” ujar Suryani yang juga Ketua Hidroponik Posyandu Mawar Harum itu.

Wanita tiga anak yang menjadi pencetus awal pembangunan Kebun Gizi itu mengaku, ide membuat kebun kecil di pekarangan seluas 285 meter persegi itu tumbuh bersama keresahannya terhadap situasi sosial di sekitarnya. Keluarganya tidak memiliki lahan walau ingin sekali berkebun. Sedangkan teman-temannya bisa memilikinya dengan mudah, meski untuk diri sendiri.

“Tapi syukur karena ada lahan TNI ini. Awalnya hanya lima orang kader Posyandu yang mau kerja. Lambat laun, tetangga dari RT lain ikut bergabung,” ungkapnya mengenang masa awal ia mulai merintis.

“Rata-rata yang mengelola ini usia produktif. Tapi ada dua lansia yang juga terlibat dan aktif membantu kita.”

Kini kelompok itu beranggotakan 16 orang. Mereka tersebar mulai dari RT 10, RT 11, RT 12, RT 14 hingga RT 63. Mereka pun terlibat tanpa paksaan. Niat membangun Kelurahan Baru Ilir jadi wilayah percontohan hidroponik menjadi salah satu tujuan tersirat yang tidak pernah diutarakan secara gamblang.

Sejalan dengan penambahan jumlah anggota, tantangan lain mulai menghantui. Banyak anggota tak sepenuhnya mencurahkan waktu dan tenaganya “full” di kebun itu. Sebab, mereka memiliki pekerjaan rutin dan tetap yang harus mereka tuaikan. Itulah kenapa, anggota aktif yang terlibat merawat kebun setiap hari hanya berjumlah empat hingga lima orang. Jam kerja pun tidak ditentukan secara kaku. Anggota biasanya datang pada pagi dan sore hari hanya untuk memeriksa air dan kadar nutrisi.

“Kalau untuk cek air dan nutrisi itu tidak perlu waktu lama. Tapi yang buat stres itu kalau listrik padam. Karena hidroponik ini butuh listrik juga.”

Meski lahan terbatas dan kendala lain masih membayang, wanita yang mulai memasuki usia “kepala empat,” itu tak kehilangan kreativitas. Bersama anggota kelompoknya, mereka berani menggunakan lima jenis sistem hidroponik sekaligus.

Menerapkan hidroponik Tower System untuk cabai, Nutrient Film Technique (NFT) sawi pakcoy, Deep Flow Technique (DFT) untuk selada, Wick System atau Sistem Sumbu untuk tanaman yang hanya direndam air tanpa mesin, serta sistem pot untuk tanaman obat; semuanya itu terasa sukar di awal. Namun, tak ada keberhasilan yang sangat membahagiakan tanpa proses rumit yang harus dilalui.

Alhasil usaha mereka tak bertepuk sebelah tangan. Ketekunan dan kerja keras mereka mulai dilirik Pemerintah Kota Balikpapan dan PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Refinery Unit (RU) V Balikpapan. Pemerintah daerah tak melupakan tanggung jawabnya dalam memberikan pendampingan. Sementara itu, dana Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina juga mulai dikucurkan.

“Bulan Agustus kemarin, Pertamina dukung kami dengan dana untuk instalasi hidroponik,” katanya.

Tak hanya bantuan fisik, penyuluhan dan pelatihan juga perlahan-lahan menemukan jalannya sendiri. Semua langkah dan kerja keras yang awalnya terasa seperti “jauh panggang dari api,” akhirnya mulai membuahkan hasil.

Kini usia kebun hidroponik itu sudah setahun lebih. Hasilnya, pelan tapi pasti, mulai dinikmati banyak kalangan. Saat musim panen tiba, tanaman sayur dan obat herbal yang ada, tak urung dipasarkan lewat media sosial dan lapak jual beli daring warga. Sebagian hasilnya dibagikan kepada warga sekitar.

“Jadi, kita kerjanya masih sukarela. Karena masih mau menggerakkan ibu-ibu di sini dulu. Kami ingin Pertamina tetap membantu kami ke depannya,” harap Suryani.

Pendapatan dari hasil tanam yang ada sepenuhnya dikembalikan ke kas kelompok. Belum ada jatah bagi hasil untuk anggota, orang perorangan. Hal itu dilakukan sementara untuk menjaga keberlangsungan usaha, mengamankan biaya pemeliharaan sarana prasarana, hingga pengadaan bibit baru yang dibutuhkan.

Makin Terorganisir dalam KWT

Lurah Baru Ilir, Junaidi sendiri mengaku bangga dengan pencapaian yang telah diraih sekelompok warganya tersebut. Baginya, kelompok yang dirintis oleh Suryani itu kini telah berkembang menjadi Kelompok Wanita Tani (KWT) Gabungan. Jumlah anggotanya pun ikut bertambah menjadi 22 orang dengan perwakilan dua orang dari setiap RT.

“Lalu di kebun itu, bukan hanya hidroponik saja yang ditanam tapi ada juga tanaman pot. Itu sudah panen, mereka juga sudah pasarkan online,” jelasnya.

Demi menjamin kelangsungan usaha warga itu, Dinas Pertanian Kota Balikpapan juga mulai turun gunung. Berbagai edukasi dan program pendampingan mulai diluncurkan. Satu demi satu ibu-ibu yang berminat pun mulai mencemplungkan diri dalam kerja sosial tersebut.

Mereka hadir tanpa dibatasi regulasi dan sekat-sekat masyarakat dari segi ekonomi kurang mampu atau berkecukupan. Sebab, semuanya adalah setara dan memiliki tanggung jawab yang sama untuk memajukan Kelurahan Baru Ilir.

“Jadi, kita tidak batasi siapa saja yang mau bergabung. Malah kita bersyukur kalau ada ibu-ibu yang mau terlibat dalam kelompok itu,” tegasnya.

Lebih lanjut, Junaidi membenarkan bahwa saat ini kendala lahan masih menyisakan tantangan sendiri. Begitupun pendapatan yang diperoleh masih masuk ke kas kelompok untuk selanjutnya dipakai membiayai kegiatan Posyandu, penimbangan, dan PMT.

“Mungkin nanti ke depan kita dorong kalau misalnya penghasilan sudah lumayan mencukupi, bisa untuk kesejahteraan perorangan juga.”

Junaidi berharap volume tanam hidroponik terus bertambah, termasuk jenis tanaman yang ditanam di petak permadani yang subur itu. Tujuannya jelas, agar penghasilan ikut bertambah. Sehingga ke depan bisa dikelola seperti sistem koperasi untuk kesejahteraan anggota.

Sudut Pandang Pertamina “Bottom Up”

Seperti halnya pemerintah daerah, pihak PT PPN RU V Balikpapan pun tak lagi memalingkan wajah. Kepercayaan terhadap KWT Kelurahan Baru Ilir itu, kian tumbuh melesat bak tanaman jahe dan temulawak yang menyembuhkan ngilu di dada; seperti sawi dan seledri yang turut menghemat ekonomi rumah tangga.

“Kebun hidroponik Baru Ilir ini, kini kami jadikan sebagai rujukan dan percontohan juga untuk hidroponik di kawasan padat penduduk,” ujar Rizqy Ray, Community Development (Comdev) Officer PT PPN RU V Balikpapan.

Pria yang akrab disapa Ray ini mengaku, meskipun didukung oleh program CSR perusahaan, pemberdayaan di tingkat akar rumput tetap dikedepankan. Perusahaan yang menjadi Jantung Energi Indonesia Timur itu, bahkan kini memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap program CSR yang seharusnya dijalankan.

“Kalau sebelumnya masih top down, sekarang kita inginkan inovasi dari warga. Mereka memetakan apa yang menjadi potensi dan kebutuhannya melalui Focus Group Discussion (FGD),” tegasnya.

Sudut pandang “bottom up” yang dihadirkan itu dianggap menjadi solusi yang lebih baik demi kemandirian usaha warga di masa yang akan datang. Hal ini juga sekaligus diterapkan untuk menghindari kebergantungan warga terhadap perusahaan hingga melenyapkan kreativitas dan inovasi mereka.

IMG 20261104 WA0028

FGD sendiri, kata Ray, dilakukan rutin setiap tahun, biasanya di awal tahun. Tujuannya ntuk menentukan rencana kegiatan bersama kelompok dampingan. Usulan hidroponik dari kelompok Suryani sendiri bahkan baru muncul pada pertengahan 2025. Namun, usulan itu layak mendapat perhatian karena sejalan dengan program pembinaan masyarakat yang dijalankan perusahaan.

“Sebelum kita ke kebun gizi ini, memang kita ada evaluasi bersama stakeholder, lalu ada dapat masukan saran, lalu kita cek, oh ternyata benar ada potensi seperti ini, ya sudah kita coba masuk,” terangnya.

Untuk memastikan program tersebut berjalan jangka panjang dan kepercayaan mengelola dana perusahaan dapat dipertanggungjawabkan, Pertamina sendiri sebenarnya tidak langsung memberikan bantuan besar. Antusiasme dan pertanggungjawaban dari kelompok bahkan menjadi dasar penilaian tersendiri sebelum hibah dan anggaran dialokasikan ke lapangan.

Karena itu, lewat berbagai survei lapangan dan hiruk-pikuk pertimbangan, KWT Kelurahan Baru Ilir akhirnya mendapat bantuan baik berupa sarana prasarana maupun dana yang disesuaikan dengan kebutuhan kelompok. Termasuk program pengolahan sampah rumah tangga menjadi pupuk kompos demi menjaga keberlanjutan kebun gizi tersebut.

“Komposter ini juga dimaksudkan supaya masyarakat tidak lagi membuang uang untuk membeli pupuk. Ini juga penghematan karena ada rencana pembangunan rumah pembibitan sendiri ke depannya.”

“Sehingga untuk program awal jangka panjang, kita tidak langsung jor-joran. Kita lihat dulu mereka mengelola anggarannya itu seperti apa, amanah atau tidak, pertanggungjawabannya jalan atau tidak. Alhamdulillah program ini selama 8 bulan itu jalan,” katanya.

Ray berharap bantuan yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal demi kelangsungan usaha warga Kelurahan Baru Ilir ke depannya, khususnya dalam upaya mencegah dan menekan stunting yang masih mengintai wilayah itu. Begitupun dengan program CSR lain yang dijalankan di wilayah itu, seperti Bank Sampah, Kampung Iklim dan program tanggap bencana yang saat ini difokuskan di wilayah kelurahan itu.

Setangkup Asa Menjangkau Green House

Kini, bagai “mengejar bintang di langit yang badai,” warga Kelurahan Baru Ilir masih menyimpan setangkup asa dalam rencana panjang mereka. Di pundak Suryani dan KWT, sebuah green house yang lebih luas, demi mendulang produksi yang lebih stabil dan pendapatan yang lebih besar, terus bergeming tanpa suara, bersama langkah kecil yang telah mereka mulai.

Suryani yakin, di samping pemerintah daerah dan PT PPN RU V Balikpapan, ada “the invisible hand” (tangan tak terlihat) yang turut terlibat membantu dan mendukung mereka. Namun, ia tahu sebuah program pemberdayaan masyarakat hanya bisa berjalan baik apabila ada masyarakat yang memiliki kehendak kuat untuk terus berdaya. (*/)

Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT