KLIK BORNEO – BERAU. Wacana investasi pembangunan pusat perbelanjaan modern atau mal di Kabupaten Berau mendapat dukungan dari banyak kalangan. Namun tak sedikit juga yang pesimis dengan kehadirannya. Salah satunya, Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi.
Menurutnya, rencana itu perlu dikaji ulang. Berikutnya, mesti berpijak pada hitungan ekonomi yang realistis, terutama menyangkut jumlah populasi dan daya beli masyarakat saat ini.
Menurut data makro daerah, jumlah penduduk Kabupaten Berau saat ini baru menyentuh angka 300 ribu jiwa lebih. Angka ini dinilai belum cukup kuat untuk menyokong keberadaan sebuah mal besar secara berkelanjutan.
Karena itu, pemerintah daerah dan investor tidak boleh memaksakan proyek megah ini berjalan jika pada akhirnya tidak menguntungkan daerah secara jangka panjang.
“Penduduk Berau sekarang sekitar 300 ribuan lebih. Nah, itu harus dihitung benar-benar apakah sudah layak ada mal besar atau belum. Kalau belum layak, ya jangan dipaksakan,” ungkapnya.
Bagian, kajian ekonomi yang matang wajib dilakukan sebelum melangkah ke tahap pembangunan. Tanpa adanya kalkulasi yang tepat mengenai perputaran uang dan kemampuan belanja masyarakat, proyek pusat perbelanjaan modern justru berisiko mangkrak atau merugikan iklim usaha lokal.
Ditegaskannya, DPRD Berau pada prinsipnya tidak menutup pintu bagi masuknya investasi swasta. Namun, ambisi pembangunan infrastruktur modern tidak mengabaikan realitas kondisi ekonomi daerah yang sedang berjalan.
“Jika, hasil kajian objektif menunjukkan pasar Berau belum siap, rencana pembangunan mal tersebut ditunda terlebih dahulu,” tandasnya. (Adv)
Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi