Mengaku Punya Bekingan Polisi dan Dewan, Suami di Berau Siksa Istri Usai Borok Judi dan Selingkuh Terbongkar

QKLIK BORNEO – BERAU. Selama 13 tahun, biduk rumah tangga yang diarungi J, seorang warga Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, jauh dari kata harmonis. Alih-alih mendapatkan kasih sayang, J justru harus kenyang menerima siksaan fisik dan mental dari suaminya sendiri, A.

Pelaku A sendiri, sesuai kesaksian korban J, dinilai bertindak semena-mena karena merasa kebal hukum. Lantaran mengaku memiliki hubungan dekat dengan oknum polisi dan anggota DPRD.

Meskipun merasa pesimis masalah tersebut tidak akan diproses karena adanya relasi kuasa tersebut, pada 6 Maret 2026, J akhirnya memberanikan diri mendatangi Polsek Gunung Tabur. Sekaligus siap mengakhiri lingkaran setan kekerasan tersebut.

J menyebut prahara terakhir yang membuatnya naik pitam dipicu oleh sebuah bukti transfer. J mendapati suaminya mengirimkan sejumlah uang kepada seorang perempuan yang diduga kuat sebagai selingkuhannya.

Padahal sebelumnya, A berjanji sudah memutuskan hubungan dengan perempuan tersebut. Bukannya merasa bersalah saat kedoknya terbongkar, A malah mengamuk membabi buta dan menyerang J secara brutal.

Di hadapan keluarga besar pelaku, J membongkar seluruh borok sang suami yang selama belasan tahun ini dipendamnya sendiri. A ternyata tidak hanya ringan tangan dan gemar bermain perempuan, tetapi juga kecanduan judi online.

Kegemaran haram itu bahkan membuat rumah mereka digadaikan dan mobil keluarga terancam dijual. Ironisnya, perilaku menyimpang A ini kerap kali dibela oleh ibu kandungnya sendiri.

Selama belasan tahun menikah, kekerasan seolah menjadi menu mingguan bagi J. Mulai dari dilempar kursi, ponsel dihancurkan, hingga yang paling sadis, bibirnya pecah dan berdarah karena diinjak oleh A. Mirisnya, A justru menyepelekan kekerasan yang dilakukannya jika intensitasnya berkurang.

“Kalau hanya sekali sebulan dipukul, dia justru bilang, ‘Ah, jarang ya kau dipukuli’,” ungjap J dengan nada pilu menirukan pernyataan A.

Selama ini J memilih bertahan karena memikirkan nasib kedua buah hatinya. Sebagai seorang Kristen, ia juga memegang teguh prinsip pernikahan yang tidak mengenal perceraian.

Setiap subuh, ia selalu bersujud dan berdoa agar suaminya bisa berubah. Namun, kenyataan justru berkata sebaliknya; kelakuan A malah semakin memburuk dari hari ke hari.

Bahkan, tiap malam J selalu dihantui rasa cemas, ketakutan apakah malam itu ia akan dipukuli lagi atau tidak. Tak hanya J, trauma mendalam juga menjangkiti kedua anak mereka. Saking takutnya, anak-anak tersebut selalu lari tunggang-langgang menyembunyikan diri setiap kali melihat sosok sang ayah.

Menurut J, aksi semena-mena A selama ini subur karena ia merasa kebal hukum. A kerap mengintimidasi J dengan memamerkan kedekatannya dengan sejumlah orang penting, khususnya anggota DPRD Berau dan oknum polisi.

“Dia pernah bilang, temannya polisi dan bosnya anggota dewan. Dia menantang saya dan bilang kalau saya melapor, percuma karena tidak akan diproses karena dia bisa bayar pengacara,” bebernya.

Ancaman itu sempat membuat nyali J ciut. Namun, berkat dukungan moral dari sang kakak, J akhirnya membuang rasa takutnya dan tetap membuat laporan polisi.

Sejak pelaporan pada Maret 2026 itu, keduanya telah pisah ranjang dan tidak pernah bertemu lagi. Kini, demi menyelamatkan masa depan dan mental anak-anaknya, J memantapkan diri untuk melayangkan gugatan cerai.

Di akhir kisahnya, J menitipkan pesan menyentuh bagi seluruh perempuan yang terjebak dalam pusaran KDRT. Ia meminta para korban untuk tidak diam.

“Jangan takut bersuara walaupun merasa laporan tidak bisa diproses. Dicoba dulu,” pungkasnya tegas. (*/)

Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT