KLIK BORNEO – BERAU. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) terus berkomitmen memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di wilayah pesisir dan kepulauan.
Salah satu fokus utamanya adalah penyediaan sarana air bersih melalui pembangunan embung di Kecamatan Maratua.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Berau, Hendra Pranata mengungkapkan bahwa proyek strategis ini sudah mulai berjalan sejak tahun 2024. Pada tahap awal, pembangunan difokuskan di Kampung Payung-Payung.
“Pembangunan memang sudah kita mulai per tahun 2024. Saat itu, fokus kami baru pada tahap pertama dan lokasinya berada di Kampung Payung-Payung,” ungkapnya, Senin (12/10/2026).
Disampaikannya, saat ini, tahap satu pembangunan fisik proyek tersebut telah rampung. Meski demikian, fasilitas tersebut belum bisa difungsikan secara optimal karena masih memerlukan pembangunan pintu air dan area tangkapan air (catchment area).
“Untuk pintu airnya, jika tidak ada halangan, akan kami usulkan untuk dimulai kembali pada tahun 2027 mendatang,” jelasnya.
Sementara itu, untuk area tangkapan air yang lokasinya berada di sepanjang bahu jalan (runway) Bandara Maratua, DPUPR kini tengah berkoordinasi intensif terkait perizinan lahan. Pasalnya, area tersebut berada di bawah otoritas Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
“Minggu depan kami akan berkomunikasi langsung dengan Kementerian Perhubungan. Semoga proses perizinan berjalan lancar dan mudah-mudahan ada dukungan anggaran pembangunan dari pusat,” terangnya.
Berdasarkan kalkulasi teknis DPUPR Berau, lanjut Hendra, Kecamatan Maratua secara keseluruhan memerlukan embung dengan kapasitas total mencapai 16 ribu meter kubik untuk bisa mencukupi kebutuhan seluruh warga. Jumlah tersebut dinilai sudah sangat ideal.
“Dari perhitungan kami, untuk keseluruhan Maratua itu dibutuhkan embung dengan kapasitas 16 ribu kubik. Jumlah tersebut sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan air di Maratua,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hendra menekankan bahwa ketersediaan embung penampung air hujan ini barulah langkah awal. Agar air tersebut layak dikonsumsi oleh masyarakat, pemerintah masih harus membangun Instalasi Pengolahan Air (IPA) serta membenahi jaringan distribusinya.
Ia mengakui bahwa jaringan pipa sebenarnya sudah tertanam di Maratua bersamaan dengan proyek pembangunan jalan terdahulu. Namun, kondisinya saat ini dinilai kurang memadai.
“Air hujan yang ditampung tidak serta-merta bisa langsung dimanfaatkan, perlu ada pengolahan instalasi air bersih dan distribusinya. Kami akan mengatur kembali jaringan pipa yang ada agar nantinya air bersih bisa mengalir dan didistribusikan langsung ke rumah-rumah warga,” pungkasnya. (*/)
Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi