Bidik Kharisma Event Nusantara, Disbudpar Adopsi Formula Sukses Festival Erau

KLIK BORNEO – BERAU. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) tengah menyusun strategi besar untuk meningkatkan kelas festival budaya lokal agar mampu menembus skala nasional.

Langkah strategis itu siap ditempuh agar rangkaian acara budaya di Berau tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, tetapi sebaliknya menjadi penggerak utama sektor pariwisata yang berkelanjutan.

Sebagai langkah awal, Disbudpar Berau menjadikan Festival Erau Adat Kutai 2026 di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) sebagai rujukan utama.

Pasalnya, festival legendaris yang berlangsung di Tenggarong pada 20–27 September 2026 tersebut sukses menembus kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata.

Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa menjelaskan bahwa daya tarik utama Festival Erau terletak pada manajemen event yang konsisten selama puluhan tahun serta sinergi yang kuat antara pemerintah daerah dan pihak keraton.

“Erau terbukti mampu menarik perhatian wisatawan domestik hingga mancanegara karena pengelolaannya yang sangat matang,” ungkapnya.

Untuk mengadopsi kesuksesan tersebut, lanjutnya, Disbudpar Berau akan fokus pada dua pembenahan krusial yakni pertama, menyusun regulasi khusus berupa peraturan daerah (Perda).

“Kita sedang mempelajari salinan Perda penyelenggaraan Erau dari Kukar. Payung hukum ini penting agar pembinaan dan penganggaran festival budaya di Berau dapat dilakukan secara rutin, terarah, dan tidak bersifat sporadis,” bebernya.

Tak hanya itu, unifikasi dua keraton Berau yakni Keraton Sambaliung dan Keraton Gunung Tabur (Museum Batiwakkal) ke dalam satu rangkaian festival yang terkoordinasi juga sangat diperlukan.

“Kolaborasi ini diharapkan dapat melahirkan acara kebudayaan yang memiliki identitas kuat dan nilai jual tinggi,” sambungnya.

Guna mendalami tata kelola pelaksanaan fedtival budaya ini secara langsung, delegasi Disbudpar Berau dipastikan hadir dalam rangkaian Festival Erau Adat Kutai 2026. Kehadiran ini akan dimanfaatkan untuk berdiskusi dengan Disbudpar Kukar terkait pengemasan tradisi menjadi magnet wisata.

Meski mengadopsi sistem dari Kutai Kartanegara, Yudha menegaskan bahwa implementasinya di Berau tetap akan disesuaikan dengan karakteristik dan keunikan budaya lokal Bumi Batiwakkal.

“Saat ini, kami juga sudah lakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk membangun kesadaran akan pentingnya manajemen festival yang profesional,” tegasnya.

Melalui standarisasi baru ini, Pemkab Berau optimis kekayaan sejarah Kesultanan Berau, seni tradisi, dan eksotisme dua keraton yang dimiliki dapat segera bersaing di panggung pariwisata nasional. (Adv/*)

Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT