KLIK BORNEO – BERAU. Kampung Buyung-Buyung di Kecamatan Tabalar, Kabupaten Berau, dikenal memiliki potensi luar biasa dalam sektor perikanan, khususnya komoditas udang rebon yang menjadi bahan baku komoditas terasi.
Guna memaksimalkan potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) tengah mengupayakan keberlanjutan pembangunan Rumah Terasi.
Program strategis yang telah dimulai tahun lalu itu merupakan kolaborasi lintas sektor yang kuat. Kampung Buyung-Buyung berkontribusi dalam penyiapan lahan, sementara Universitas Mulawarman (Unmul) telah menyusun kajian kelayakan.
Tak hanya itu, Bank Indonesia (BI) juga dipastikan turun tangan dalam peningkatan kapasitas kelompok usaha dan penyediaan peralatan. Sedangkan pemerintah daerah (Pemda) bertanggung jawab atas pembiayaan pembangunan infrastrukturnya.
Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita menjelaskan bahwa konsep Rumah Terasi dirancang sebagai pusat produksi modern yang terintegrasi. Namun, ia tidak menampik adanya kendala anggaran akibat efisiensi keuangan daerah yang cukup signifikan.
“Kebutuhan anggaran untuk proyek ini memang cukup banyak. Akibat efisiensi saat ini, usulan kami untuk penambahan satu bangunan di tahun 2027 kemarin terpaksa dicoret,” ungkapnya, Rabu (5/8/2026).
“Padahal, jika ingin beroperasi optimal, minimal diperlukan satu bangunan lagi karena ada beberapa unit produksi yang memang tidak bisa disatukan,” sambungnya.
Saat ini, lanjut Eva, satu bangunan utama telah selesai berdiri. Rencananya, kompleks Rumah Terasi ini nantinya akan memiliki beberapa fasilitas terpisah, mulai dari ruang pengeringan, ruang pengemasan (packing), hingga ruang galeri produk untuk pemasaran.
Menyikapi keterbatasan dan potensi macetnya proyek tersebut, Diskoperindag Berau akan segera berkoordinasi dengan Kepala Kampung (Kakam) Buyung-Buyung. Tujuannya untuk mengoptimalkan terlebih dahulu fasilitas yang sudah ada.
“Jika sampai tahun 2027 nanti memang belum ada anggaran untuk kelanjutan pembangunan, kami akan berkomunikasi dengan Kepala Kampung agar bangunan yang ada saat ini bisa dimanfaatkan sebisanya dulu oleh masyarakat,” bebernya.
Eva menambahkan sentralisasi produksi terasi itu sangat penting bagi masa depan perekonomian warga setempat. Dengan terpusatnya aktivitas di Rumah Terasi, pemerintah daerah dapat lebih mudah melakukan pembinaan, mengatur standarisasi produksi, hingga mengarahkan manajemen pemasaran produk terasi khas Berau agar menembus pasar yang lebih luas. (Adv/*)
Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi