KLIK BORNEO – BERAU. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) kembali berkomitmen untuk mengoptimalkan kembali keberadaan bank sampah. Pasalnya, program yang awalnya digadang-gadang menjadi salah satu motor penggerak ekonomi kreatif (ekraf) itu belum berjalan maksimal.
Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari menjelaskan bahwa saat ini, program tersebut menghadapi realita di lapangan berupa penumpukan material yang belum terolah optimal serta rantai pemasaran produk turunan yang belum terbentuk sempurna.
Karena itu, fokus utama pihaknya saat ini yakni bergeser dari sekadar mengajak warga memilah, menjadi bagaimana mengolah sampah anorganik tersebut agar bernilai ekonomi dan diserap oleh pasar.
“Pengelolaan bank sampah sampai dengan pemasarannya itu yang menimbulkan masalah baru juga. Setelah kita pilah sampah ini ke mana,” ungkapnya.
“Coba kita datangi bank-bank sampah, masih numpuk itu, belum ada pengolahannya. Terus pemasarannya. Jadi bukan hanya kita mengolah plastik, tapi endingnya dari pemilahan itu ke mana,” sambungnya.
Berdasarkan data terkini, lanjutnya, dari total 22 unit bank sampah yang tercatat di Kabupaten Berau, baru 12 bank sampah yang statusnya aktif bergerak. Di antara unit yang aktif tersebut, produk ekraf berskala mikro, seperti kerajinan gantungan kunci dan pernak-pernik dekorasi lainnya dari limbah plastik sudah mulai dibuat.
Meski kreativitas warga mulai tumbuh, Zulkifli mengakui bahwa kontribusi sektor ini terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum terlihat secara signifikan karena ekosistem pasar hilir yang belum matang.
“Sehingga saat ini, kita belum lihat kontribusi bank sampah ini untuk PAD. Kita masih fokus supaya bank sampah ini bisa diolah dan dipasarkan. Itu misi utamnya saat ini,” jelasnya, Selasa (22/9/2026).
Untuk memecah kebuntuan pemasaran, DLHK Berau tengah menyusun dan mengeksekusi beberapa langkah strategis. Adapun beberapa langkah itu antara lain penguatan jejaring dengan industri pengolahan hijau berskala besar, menyinkronkan produk kriya daur ulang dengan sektor pariwisata lokal untuk dijadikan suvenir.
“Lalu mengupayakan bantuan stimulus teknologi pengolahan seperti mesin pencacah dan alat pres,” bebernya.
Melalui langkah hilirisasi dan pencarian peluang pasar yang agresif ini, DLHK Berau optimistis bank-bank sampah yang saat ini pasif dapat bergairah kembali, sehingga memilah sampah mampu menjanjikan insentif ekonomi yang nyata bagi masyarakat Berau. (Adv/*)
Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi