KLIK BORNEO – BERAU. Ekosistem seni di Bumi Batiwakkal, khususnya seni teater saat ini mulai berkembang. Untuk mendukung perkembangannya, dibutuhkan pula fasilitas berupa gedung pertunjukan yang representatif.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantoso menilai kehadiran gedung ini cukup mendesak. Karena itu, pihaknya juga akan berupaya mengakomodasi kehadiran gedung tersebut.
“Mudah-mudahan momentum ini menjadi kesempatan bagi kita untuk bersama-sama menyuarakan kebutuhan akan gedung yang representatif,” ungkapnya saat menutup gelaran Darma Festival Teater (DAFT) kelima di Gedung Busak Malur belum lama ini.
Meskipun akan memperjuangkan hal itu, Yudha juga mengajak para pelaku seni dan ekraf untuk bersinergi menyampaikan usulan pembangunan fasilitas tersebut, baik kepada pihak eksekutif maupun legislatif.
“Jadi kita sama-sama berjuang. Teman-teman pelaku seni juga kita harapkan bisa bersurat ke dewan untuk dibahas,” jelasnya.
Menurutnya, pengembangan seni teater tidak boleh berhenti hanya pada acara seremonial semata. Diperlukan keberlanjutan program dan rencana strategis jangka panjang agar roda ekonomi kreatif di Berau dapat terus berputar.
“Nah ini harus jalan bareng juga dengan ekonomi kreatif lainnya. Sehingga saat teater ditampilkan, usaha kecil juga ikut merasakan dampaknya,” bebernya.
Sebagai solusi jangka pendek, Yudha menyarankan agar aset daerah yang sudah tersedia seperti eks-gedung bioskop di Teluk Bayur yang memiliki kapasitas sekitar 400 hingga 500 penonton, dapat dioptimalkan.
Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ruang alternatif pementasan rutin dengan sistem tiket guna membangun kemandirian finansial komunitas sekaligus memperluas apresiasi masyarakat.
Yudha berharap dengan kehadiran fasilitas-fasilitas tersebut, karya-karya lokal Berau diharapkan tidak hanya bergaung di level regional Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, melainkan mampu menembus panggung nasional hingga internasional. (Adv/*)
Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi