KLIK BORNEO – BERAU. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau melalui Dinas Pangan Kabupaten siap melakukan modernisasi sistem pemetaan wilayah rawan pangan menggunakan aplikasi Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA).
Modernisasi lewat sistem digital itu ditempuh guna mengukur ketahanan pangan daerah secara lebih presisi melalui 11 indikator kompleks, sekaligus menjadi dasar rekomendasi pembangunan infrastruktur fisik di kampung-kampung zona merah.
Hal itu disampaikan oleh Plt Kepala Dinas Pangan Berau, Tenteram Rahayu, melalui Analis Ketahanan Pangan Muda, Muhammad Jum’an.
Peta Kerawanan Pangan yang dihasilkan, menurut Jam’an tidak hanya berfungsi sebagai dasar pembagian sembako. Data tersebut juga menjadi rekomendasi resmi bagi instansi teknis lain, seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), untuk melakukan pembangunan fisik.
Dicontohkannya, jika sebuah kampung masuk zona merah akibat krisis air bersih atau akses jalan yang rusak, Dinas Pangan akan meneruskan rekomendasi tersebut ke DPUPR untuk penanganan infrastruktur secara langsung.
“Jadi, ini bisa dibilang juga untuk memodernisasi koordinasi dan membangun layanan terpadu lintas sektor untuk pembangunan, khususnya di bidang pangan,” ungkapnya.
Melalui aplikasi FSVA, tambahnya, pengukuran ketahanan pangan daerah akan dievaluasi melalui tiga pilar utama yakni ketersediaan pangan, keterjangkauan ekonomi/fisik, dan pemanfaatan konsumsi gizi termasuk pemantauan angka stunting.
Sistem baru itu pun dipastikan akan membuat pemetaan wilayah menjadi jauh lebih dinamis mulai tahun depan.
“Dengan aplikasi FSVA ini, penghitungan tahun depan akan jauh lebih dinamis. Data wilayah rawan pangan bisa saja berkurang atau justru bertambah karena indikator penilaiannya jauh lebih kompleks,” pungkasnya. (Adv/*)
Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi