KLIK BORNEO – BERAU. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Berau melaporkan laju inflasi tahunan (year-on-year) di Kabupaten Berau menyentuh angka 8,13 persen pada September 2026.
Tekanan inflasi yang signifikan ini dipicu oleh lonjakan harga komoditas pada kelompok pengeluaran makanan.
Kenaikan tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang merangkak naik dari 112,53 pada September 2025 menjadi 121,68 pada September 2026.
Kepala BPS Berau, Yudha Wahyudin menjelaskan bahwa subkelompok makanan menjadi motor utama inflasi dengan mencatatkan kenaikan tahunan sebesar 8,86 persen.
Sebaliknya, tren berbeda ditunjukkan oleh subkelompok minuman tidak beralkohol yang mencatat inflasi terendah di angka 1,14 persen.
Berdasarkan data resmi BPS Berau, lanjutnya, terdapat lima komoditas pangan utama yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan.
Lima komoditas itu yakni, daging ayam ras dengan andil 0,33 persen, bayam 0,26 persen, kangkung 0,21 persen, cabai rawit 0,20 persen, dan jagung manis 0,17 persen.
Selain lima bahan pokok tersebut, pergerakan inflasi juga didorong oleh komoditas lain seperti ikan bandeng, ketimun, minyak goreng, sawi hijau, beras, udang basah, dan cabai merah.
Menurutnya, harga bahan pangan ini menjadi perhatian serius karena langsung berdampak pada pengeluaran rumah tangga masyarakat.
Meski mayoritas bahan pangan melonjak, BPS mencatat adanya beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga (deflasi tahunan) sehingga berfungsi sebagai penyeimbang.
Komoditas penahan inflasi tersebut adalah bawang merah dengan andil deflasi sebesar 0,11 persen, disusul ikan layang sebesar 0,08 persen, dan tahu mentah sebesar 0,04 persen.
Sementara itu, jika melihat pergerakan harga dari bulan ke bulan (month-to-month), Kabupaten Berau membukukan inflasi bulanan sebesar 0,49 persen pada September 2026.
Sektor sayuran mendominasi andil bulanan ini, di mana bayam menjadi penyumbang tertinggi sebesar 0,19 persen, diikuti kangkung 0,13 persen, serta cabai rawit dan ketimun yang masing-masing menyumbang 0,10 persen.
Tak hanya itu, harga ikan layang dan ikan tongkol justru melandai secara bulanan dengan andil deflasi masing-masing 0,16 persen dan 0,09 persen.
“Seluruh rangkaian data IHK ini memberikan gambaran riil mengenai perubahan harga barang dan pemetaan kebutuhan konsumsi masyarakat di Kabupaten Berau sepanjang satu tahun terakhir,” tandasnya. (*/)
Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi