KLIK BORNEO – BERAU. Camat Maratua, Ashari, meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau untuk membatasi masuknya pelaku usaha wisata dari luar daerah ke Pulau Maratua.
Menurutnya, hal itu perlu dipertimbangkan dengan baik mengingat saat ini, mata pencaharian utama mayoritas masyarakat lokal telah beralih dari nelayan menjadi pelaku pariwisata.
Ashari khawatir jika ruang usaha bagi warga lokal tergerus oleh dominasi pelaku usaha wisata dari luar daerah, masyarakat setempat bisa kehilangan penghasilan.
Kondisi itu diklaim bisa memicu mereka kembali melaut dengan cara-cara yang merusak lingkungan, atau bahkan terjerumus ke dalam jaringan kriminalitas internasional.
“Kita tidak melarang masuknya pelaku usaha wisata dari luar ini. Tapi jangan sampai warga lokal mati usahanya,” ungkapnya kepada Klikborneo.com.
Diakui Ashari, ancaman kerusakan lingkungan yang paling ditakuti adalah penggunaan bahan kimia berbahaya seperti potasium untuk menangkap ikan.
Pasalnya, metode ini dijalankan secara senyap, tetapi berdampak fatal bagi ekosistem bawah laut Maratua dibanding penggunaan bom ikan.
“Kalau itu bom, mungkin mereka (nelayan) takut. Tapi yang kita takutkan itu kalau mereka pakai potas. Kalau pakai potas, terumbu karang pasti mati. Matinya tidak kelihatan dan tidak kedengaran,” jelasnya.
Selain ancaman kerusakan lingkungan, Ashari juga menyoroti kerawanan geografis Pulau Maratua yang berbatasan dekat dengan negara tetangga.
Tanpa kepastian ekonomi di sektor wisata, desakan kebutuhan hidup bisa mendorong warga lokal mengambil jalan pintas yang berbahaya bagi keamanan negara.
“Jarak Maratua ke Malaysia itu hanya empat jam menggunakan speedboat. Jangan sampai karena urusan perut, mereka beralih menjadi pengedar narkoba. Itu yang sangat saya takutkan,” bebernya.
Ditambahkannya, pihak kecamatan tidak berniat menutup pintu investasi di Maratua. Namun, perlu ada kebijakan yang berpihak pada warga lokal.
“Kita tidak menutup ruang pelaku wisata luar ini masuk semasuk-masuknya. Tapi yang harus kita perhatikan adalah masyarakat lokal ini. Ini harus jadi pertimbangan utama,” pungkasnya. (*/)
Penulis: Yoakim Elton SW
Editor: Rahmat Efendi