Maksimalkan 10 UPR, Diskan Berau Targetkan Stop Impor Benih Ikan

KLIK BORNEO – BERAU. Pemerintah Kabupaten Berau menegaskan komitmennya untuk memperkuat kemandirian sektor perikanan daerah. Wakil Bupati Berau, Gamalis, menyatakan dukungannya terhadap langkah strategis Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau yang menargetkan penghentian pasokan benih ikan dari luar daerah.

Menurut Gamalis, potensi pembudidaya lokal di Bumi Batiwakkal sangat besar sehingga ketergantungan benih dari luar harus segera diatasi. Langkah ini dilakukan dengan memaksimalkan kapasitas produksi 10 Unit Pembenihan Rakyat (UPR) yang tersebar di empat kecamatan.

Rencana strategis itu disiapkan guna mengejar target ideal kebutuhan benih lokal yang mencapai 4 juta ekor per tahun sekaligus mewujudkan kemandirian para pembudidaya. Gamalis berharap penguatan UPR ini dapat mendorong perekonomian masyarakat secara berkelanjutan.

“Pemerintah daerah tentu mendukung penuh upaya Diskan dalam mengoptimalkan UPR lokal agar para pembudidaya kita tidak lagi bergantung pada benih luar. Kita ingin Berau mandiri di sektor perikanan,” ujar Wakil Bupati Berau, Gamalis.

Kepala Bidang Budidaya Diskan Berau, Budiono menjelaskan bahwa 10 UPR yang ada itu secara khusus tersebar di Kecamatan Tanjung Redeb, Teluk Bayur, Gunung Tabur, dan Sambaliung. Keberadaannya difokuskan untuk menyuplai kebutuhan budidaya di wilayah sekitarnya, serta bertindak sebagai mitra strategis dari Balai Benih Ikan (BBI).

“Tiap tahun kita selalu dukung terkait sarana prasarana pembenihannya, indukannya, lalu pendampingan agar UPR ini bisa mandiri menghasilkan benih berkualitas untuk kebutuhan budidaya lokal,” ungkap Budiono kepada Klikborneo.com.

Saat ini, diakui Budiono, total kebutuhan benih untuk semua jenis ikan di Kabupaten Berau menembus angka 4 juta ekor per tahun. Dari jumlah tersebut, ikan lele dan nila menjadi dua komoditas yang paling tinggi permintaannya karena secara teknis dinilai lebih tahan terhadap perubahan lingkungan.

Meski pembenihan lele, nila, dan mas sudah berkembang baik di Berau, pasokan lokal belum mampu memenuhi seluruh permintaan. Akibatnya, 1 juta ekor benih terpaksa masih harus didatangkan dari luar daerah, termasuk untuk jenis ikan tertentu seperti gurami yang belum bisa diproduksi secara mandiri di Berau.

Selain ketergantungan pasokan, lanjutnya, UPR di Berau juga menghadapi tantangan eksternal. Dalam satu hingga dua tahun terakhir, beberapa UPR mengalami penurunan produksi karena wilayah operasionalnya berbatasan langsung dengan kawasan tambang. Salah satunya adalah UPR di kawasan bandara di Gunung Panjang yang saat ini terpaksa menghentikan aktivitasnya sementara waktu.

“Penurunan produksi memang ada karena faktor lingkungan tersebut. Namun secara umum program tetap berjalan dan tetap kita bina. Jika kondisinya sudah membaik, mereka akan mulai kembali berproduksi,” tambahnya.

Guna mengejar kekurangan 1 juta ekor benih tersebut, tambah Budiono, Diskan Berau memilih untuk memaksimalkan kapasitas 10 UPR yang sudah ada. Peningkatan kualitas dan kuantitas benih turunan (indukan F2) terus dipacu agar sektor ini dapat diandalkan sebagai mata pencaharian utama masyarakat.

Tak hanya itu, Diskan Berau juga tengah merumuskan solusi untuk mengantisipasi kendala klasik pembudidaya, yaitu jatuhnya harga jual ikan akibat panen yang bersamaan di saat suplai melimpah. Untuk mengatasinya, Diskan berencana membangun integrasi pasar hilir yang melibatkan Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) hingga sektor swasta.

“Kami sedang menjajaki komunikasi dengan beberapa CSR perusahaan swasta, apakah hasil panen ini nantinya bisa diserap sebagai bahan baku catering mereka,” tandasnya. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT